Sangatta merupakan ibukota Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Daerah Sangatta ini merupakan daerah pemekaran di pedalaman hutan Kalimantan sejak dioperasikannya produksi tambang batubara PT.Kaltim Prima Coal pada tahun sembilanpuluhan.
Penduduk yang menetap di daerah Sangatta ini terdiri dari suku Banjar dan sebagian besar merupakan pendatang dari Jawa, Sulawesi, dan sedikit orang Sumatra. Oleh karena itu, tak heran jika bahasa yang digunakan disini kebanyakan adalah bahasa Jawa dan Bugis dengan perpaduan sedikit bahasa Banjar.
Dikarenakan banyaknya orang Bugis Toraja yang menetap dan bekerja di PT. Kaltim Prima Coal, maka dibuatlah suatu rumah adat Tana Toraja di wilayah perbukitan Sangatta, pada wilayah jalan menuju Tanjung bara. Rumah adat yang disebut dengan Tongkonan ini dibuat semirip mungkin dengan yang ada di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Rumah adat ini sangat mengagumkan, dimana konstruksinya menggunakan kayu, tanpa logam termasuk paku sidkitpun.
Rumah Adat Tongkonan ini sekilas mirip dengan rumah gadang dari daerah Minang dengan kedua ujung atap yang meruncing ke atas, konon filososfi atap ini berkaitan erat dengan hubungan kepada leluhur masyarakat Toraja yang mengarah ke utara.
Di samping rumah adat Tongkonan yang ada di Sangatta ini, terdapat patung kerbau yang konon dibuat untuk melambangkan bahwa masyarakat Toraja suka memelihara kerbau. Rumah panggung ini biasanya digunakan untuk rumah tinggal, kegiatan sosial, upacara adat, serta membina kekerabatan. Sedangkan kolong di bawahnya digunakan untuk kandang kerbau.
Ornamen pada rumah adat ini sangatlah unik, yaitu terdiri dari warna merah, hitam , dan putih yang memepercantik tongkonan. pada bagian pintu, tembok, jendela, dan bagian lainnya terdapat motif yang indah, halus, dan beragam. Terdapat pula ukiran bergambar kerbau.
Jika Anda belum sempat untuk datang langsung ke daerah Tana Toraja, mungkin bisa mencoba datang ke Sangatta, Kutai Timur. Namun, datang langsung ke Tana Toraja alangkah lebih menyenangkan dengan menikmati kearifan lokal yang ada, dimana kita dapat merasakan keberadaan orang mati yang "hidup".
sang pujangga,
Imam Andriano Risoyo


betul skali kawand alangkah bagusx klo dtng langsung k toraja...
BalasHapusingin sekali bisa datang langsung ke toraja teman..
BalasHapusSayang sekali, rumah Tongkonan tersebut sudah dibakar orang-orang tidak bertanggung jawab
BalasHapusDatang langsung ke toraja lebih mantap bro, karena betul yang di katakan saudara kita Datoe Papayungan, rumah Tongkonan tersebut sudah dibakar.
BalasHapus