“Sebagaimana kita ketahui bahwa pada saat sekarang ini jumlah karya ilmiah
dari Perguruan Tinggi di Indonesia secara total masih rendah jika dibandingkan
dengan Malaysia, hanya sekitar sepertujuh. Hal ini menjadi tantangan kita
bersama untuk meningkatkannya,” kalimat itulah yang membuka surat edaran DIKTI
awal tahun ini berkaitan dengan keharusan membuat makalah yang diterbitkan pada
suatu jurnal.
Yang menjadi pertanyaan kita saat ini bukanlah mengapa DIKTI harus
membandingkan kita dengan negara lain, melainkan mengapa jumlah karya ilmiah yang
inovatif di Indonesia masih
sangat kurang.
Dalam kenyataan yang
kita temui dewasa kini, jarang sekali mahasiswa melakukan penelitian. Tak dapat
dipungkiri bahwa tak semua mahasiswa memiliki minat dalam bidang penelitian,
karena minat mereka yang bermacam-macam, baik di bidang penelitian itu sendiri,
bidang kewirausahaan atau entrepreneurship,
maupun minat lainnya. Misalpun ada, itupun sebagai tugas pokok seorang
mahasiswa yaitu ketika melakukan skripsi.
Begitu pula dengan
dosen, dibalik kehidupan seorang dosen yang sangat sibuk dengan berbagai tugas
akademiknya, mereka juga memiliki aktivitas lain sehingga waktu yang bisa
digunakan untuk penelitian menjadi berkurang. Dosen harus sadar untuk melakukan
penelitian. Dalam tridarma perguruan tinggi, salah satunya terdapat unsure melakukan penelitian. Tanpa
melakukan penelitian, ilmu tidak akan berkembang. Ilmu atau informasi yang kita
dapatkan harus kita cari kebenaran dan manfaatnya dengan suatu penelitian.
Menurut Olga Afriandani, seorang mahasiswa Jurusan Teknik Elektro dan
Teknologi Informasi UGM, kurangnya penghargaan dari banyak pihak terhadap suatu
penelitian maupun peneliti itu sendiri menjadi salah satu
kendala dalam
mengembangkan penelitian yang inovatif di Indonesia.
Berbeda dengan pendapat
Bono Setyo, dosen ilmu komunikasi UIN Sunan Kalijaga, menurut beliau dana untuk penelitian di Indonesia masih
sangat minim. Oleh karena itu, banyak peneliti-peneliti Indonesia yang lebih
suka mencari dana riset dari luar negeri disamping jumlah dananya yang sangat
memadai juga kemudahan2 lainnya seperti administrasi pelaporan penggunaan dana
dan lain hal sebagainya.
Terlepas dari alasan-alasan
tersebut, jumlah mahasiswa dan dosen yang melakukan penelitian meskipun masih
minim, tetapi jumlahnya dari tahun ke tahun semakin meningkat. Hal ini didukung dengan kegiatan Lomba Karya
Tulis Ilmiah, Pekan Kreativitas Mahasiswa, hibah penelitian, maupun
perlombaan-perlombaan yang mendukung lainnya. Akan tetapi, apakah
penelitian-penelitian yang sudah dilakukan di Indonesia sudah inovatif.
Menurut Pajar Hatma Indra
Jaya, dosen Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga,”Penelitian kita sudah bisa digunakan untuk naik ke
bulan. Satu orang mahasiswa untuk lulus harus membuat tugas akhir yang rata-rata
berwujud penelitian. Jika hasil penelitian itu disusun menjadi tangga konon
katanya bisa digunakan untuk naik ke bulan. Ini sindiran untuk dunia pendidikan
kita, bahwa banyak penelitian yang tidak menghasilkan apa-apa, kecuali gelar
sarjana.”
Untuk penelitian yang
dilakukan oleh dosen, mayoritas sudah inovatif. Akan tetapi, sebagian besar penelitian
di Indonesia yang dilakukan oleh mahasiswa hanyalah sebagai sarana untuk
mendapatkan suatu kelulusan dari perguruan tinggi. Hal ini tak dapat dipungkiri
jika penelitian-penelitian tersebut hanyalah seputar ilmu ataupun hasil dan
informasi yang telah ada, bukanlah menciptakan suatu produk baru, atau minimal
memperbaharui produk yang telah ada.
Akan tetapi, banyak pula
inovasi yang telah dilakukan oleh mahasiswa. Dengan adanya berbagai kompetisi
robot, aplikasi teknologi, maupun kompetisi inovasi di berbagai bidang ilmu
lainnya dapat menambah ketertarikan mahasiswa untuk melakukan inovasi-inovasi
yang lebih banyak.
Agar penelitian
inovatif yang dilakukan oleh mahasiswa
semakin banyak, perlu pengarahan yang tepat oleh berbagai pihak. Perlu ditumbuhkan kesadaran sejak dini akan
pentingnya inovasi dalam hal pengembangan iptek. Perlu juga pengetahuan bahwa
penelitian dapat diaplikasikan dengan aspek yang lain, salah satunya dalam hal
entrepreneur.
Menurut Ir.Lukito Edi
Nugroho, M.Sc, Ph.D, kepala Jurusan Teknik Elektro dan Teknologi InformasiUGM,
untuk menambah minat mahasiswa di bidang penelitian inovatif, pemerintah
beserta stakeholder harus mampu
memfasilitasi mahasiswa dan memberikan suasana yang kondusif untuk
mengembangkan penelitian.
sang pujangga,
Imam Andriano Risoyo
essay ini pernah dimuat dalam rubrik Suara Kampus
Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat tahun 2012
download link:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar