Minggu, 21 Oktober 2012

Katasthrope


Sepoi, begitulah cara orang-orang memanggilku.  Sosok yang polos dan selalu setia menemani mereka.  Pribadi yang tak dapat melawan perubahan zaman.
Kususuri  jalan setapak yang sudah menerjal, curam dan penuh genangan air. Becek. Hujan baru saja reda.  Semayup suara kecipak, butir-butir air jatuh dari pucuk daun mahoni. Daun-daun kering berserak. Aroma tanah basah, bau hancing daun dalam genangan menyeruak, mengingatkanku pada lima tahun silam…….

Kicau burung-burung tilang terdengar merdu dari pucuk pohon mundung dan lasep.  Kutengok sudut lain, tampak sekelompok kumbang mencuri pekerjaan para kupu.  Sang mawar pun tampak malu dengan menggoyang-goyangkan mahkotanya.  Ingin ku turut serta, kuhempaskan tubuhku menambah tarian para bunga.
Burung-burung camar bergerombol ke selatan.  Melawan sisa-sisa kabut tuk tinggalkan bukit.  Mencari usapan gizi, itulah yang harus dilakukan selama setengah hari.  Waktu berganti, hari melangkahkan diri, semua itu bak sebuah perputaran.  Terus terjadi dan terjadi.
Dalam kebiasaan ini, aku tak tahu apakah diriku cukup berguna.  Yang pasti, kawan-kawanku selalu memintaku tuk membantu mereka beradu layang-layang dengan anak desa tetangga.  Sesungguhnya pun aku tak mengerti apa yang harus kulakukan.  Seakan-akan akulah yang menentukan permainan, tanpa kehadiranku mereka tak yakin tuk melakukannya.
“Sepoi, cepeto lek mbrene !!” rekah senyum wajah polos mereka membuatku bahagia.
“Ayo gelek endang lekasi !” aku menimpali.  Tak seorang pun menjawab.  Ah biarlah ku tak menghiraukannya, toh tawa mereka sudah membuatku senang.

***

Ketika senja beranjak ke ranjangnya pun kawan-kawanku tetap mencariku.  Yah, mereka tak mau absen ngaji di surau, atau bayang-bayang lampor muncul di benak mereka.  Begitulah cerita yang sudah dikarang nenek moyang turun-temurun.  Yang pasti anak kecil gak boleh kakean polah ba’da maghrib sampai isya.
Di lain sisi, anak-anak itu membenci Barat, teman seperjuanganku.  Tanpa komando, aku juga menolak keberadaan Barat.  Bagaimana tidak, dengan keberadaan Barat mereka tak mampu melanjutkan ngaji.  Lilin-lilin kecil yang diletakkan antara bedug dan kentongan akan berulang kali memejamkan matanya.

***

Sepulang dari surau bocah-bocah tengil itu biasa nongkrong di tepi jalan desa yang masih berupa tatanan bebatuan yang rapi.  Dibalik batang-batang bambu celotehan burung hantu terdengar, menandakan bahwa mereka akan pergi mencari makan.  Suara mereka serempak dalam sebuah irama ciptakan alunan apik dalam kepekatan senja.
Di saat itu teman-temanku membakar tepes buah kelapa.  Sabut-sabut kering yang sangat mudah dilahap api.  Menambah kemeriahan senja.
Kunang-kunang temani rembulan ciptakan gemerlap malam.  Menari-nari di balik pekatnya kabut.  Menghimpun diri, ciptakan penerangan di antara kukur burung hantu.  Yah, meski jauh dari peradaban kota pun kami dapat berpesta.  Lengkap sudah kebahagiaan kami.
Namun, tak lama kawanku bergembira, dalam kedipan mata Barat berulah.  Ia datang tak diundang, tanpa basa-basi ia mendekat.
Semua anak gelisah.  Begitu pula diriku.  Kebahagiaan dan kemeriahaan berubah senyap dalam sekian waktu.  Semua diam.
“Katasthrope...katasthrope!!” ujar salah seorang anak berambut pirang yang toh menurut kabar adalah peranakan Eropa dengan pribumi.  Tak ada seorang pun yang paham akan maksudnya.  Yang pasti raut wajah itu melambangkan rasa cemas.  Mungkin, musibah artinya.
Pesta yang digelar rusak berantakan.  Kesemrawutan menghantam purnama.  Semua menjadi bubar.  Anak-anak berlarian menghamburkan diri, risalah suatu keporak-porandaan.  Kebahagiaan ditekan jiwa hitam.  Perasaan pun gundah.
Inilah satu hal yang membuatku membenci Barat.  Selalu merusak kebahagiaan kawan-kawanku.  Rusak pula semua kebahagiaanku.  Meski Barat hanya ingin bergabung, tapi kehadirannya tak pernah diakui.  Terkucillah ia.
Kadang jiwa ini memberontak.  Barat, saudara seperjuangankulah yang harus ku dekati.  Kita dilahirkan kembar, tetapi berbeda sifat.  Aku yang terkenal lembut, sedang ia terkesan kasar.  Ah biarlah, Barat membuatku seorang diri lagi.  Kawan-kawanku telah sembunyi di gubuk mereka.  Berulah bersama mimpi masing-masing.

***

Ku berdiri melayang di angkasa.  Kekhawatiran muncul begitu saja. Liat saja sekelilingku, ini bukanlah rumahku!!  Ini hanyalah negeri monster, negeri penyiksaan.  Mimpikah diriku?
Mugkinkah aku pantas bertanya, “Di manakah kawan-kawanku ?” tak ada lagi lahan bermain.  Gundukan lempung-lempung basah menjelma menjadi area produksi polusi.  Menjulang tinggi beton-beton pembatas diri.  Asap-asap hitam menari-nari menuju angkasa.  Tak jarang pula para kaleng dan cairan hitam pekat berenang di antara aliran air yang keluar dari pusat kebisingan itu.
Monster-monster raksasa memamerkan setiap bagian gigi runcingnya.  Menghantam segala sesuatu yang dijangkaunya.  Begitu pula tanah-tanah subur itu.  Ia lahap, ia muntahkan di atas tubuh monster lain, dan kemudian dibawa entah kemana.  Sungguh pemandangan yang menyedihkan.
Tak ada lagi yang leluasa berdiri di sini, kecuali diriku seorang.  Menyaksikan monster-monster itu mencabik-cabik setiap kenangan yang ada.  “Bah, buat apa aku banggakan ini, toh aku hanya sendiri.”  Cerita ini seakan mengalihkan perhatianku akan sebuah revolusi.
Kuhempaskan diriku ke utara,  seakan-akan harus dapatkan jawaban akan pertanyaan ini.  Mengais misteri akan sebuah perubahan terjadi.
Kupalingkan wajahku, mensurvey setiap gejala yang terjadi di sekelilingku.  Bahkan, tak satupun ku jumpai kumbang dan tilang.  Hanya sayup-sayup terdengar kidung jangkrik menggoda telinga.
Kuhentikan diri di antara ilalang. Berusaha menikmati alunan tersebut.  Alunan lagu mereka makin keras, bahkan saling bersahutan.  Akan tetapi, bila aku dekati suara-suara itu menghilang seketika.
“Hai jangkrik, mengapa kalian berhenti bernyanyi?”
“Kami lapar sekali.”
“Makanlah, mudah kan masalah usai.”
“Dimana kita bisa dapatkan makanan? Toh, ladang tempat kami hidup telah menghitam dan keras.”
Kuperhatikan sekitar, tak ada lagi padang rumput.  Semua ini telah menjelma indah, sebuah neraka bagi kaum jangkrik ini.
Maaf.  Kalau begitu akan kucarikan surga baru untuk kalian.  Sampai jumpa!!”
Sungguh, sudah berapa lamakah aku tertidur.  Seakan perubahan ini tak layak dihitung waktu.  Semua serba instan dan cepat.

***

Mentari telah muncul kembali di ufuk timur.  Memamerkan sinarnya dengan penuh rasa malu.  Cahaya keemaasan menghiasi ujung-ujung daun yang basah, menembus setiap lekuk tubuhku.  Kukembangkan senyum merekah.  Menikmati fenomena indah ini.  Hmmm... saatnya kubermain bersama kawan-kawan lamaku.
Kuberanjak dari peraduanku.  Kuhempaskan badanku ke arah selatan.  “Ooohh tidaaakkkk....!!!” tak kuasa aku menahan teriak.  Semua ini bukanlah mimpi.  Tak ada lagi tempat bermainku.  Tak ada lagi lahan hijau itu.
Tak tampak seorang pun kawan lamaku.  Padahal inilah hari Minggu yang biasa dinanti-nati.  Kemeriahan areal ini hanyalah ditimbulkan kebisingan mesin-mesin beroda itu.  Kemeriahan semu yang dulu tak pernah ada.
Kucari-cari kembali semua kawan lamaku.  Kutemukan mereka di rumah masing-masing.   Dengan penuh konsentrasi mereka lakukan aktivitas masing-masing.  Seseorang sibuk menonton televisi, yang lain sibuk menghitung uang mereka.  Ah, semua telah berubah. Mungkin menghilangnya lahan bermain mereka telah membatasi setiap aktivitas yang ada.
Kuberbalik menuju jalan.  Tampak Barat bersama teman-temannya datang dari seberang.  Mengobrak-abrik setiap rumah yang ada.  Mencabut tiang-tiang itu dari akarnya.  Menerbangkannya.  Kemudian menjatuhkannya.  Menghantam semua kawanku.  Hingga mereka tergeletak tak berdaya.
Yah, Barat pastilah juga marah.  Tempat tinggalnya telah dirubah seenaknya.  Hilangnya pepohonan, areal produksi yang kotor, membuatnya muak.  Tak sedikit pun yang dipikirkan manusia untuk kami.
Tak ada lagi keindahan dunia ini.  Keegoisan telah mendorong manusia dalam keterbatasan.  Keterbatasan mengembangkan moral dan rasa cinta pada alam.  Yang akan berakibat buruk pada mereka sendiri.  Ah,, memang roda telah berputar.  Seandainya waktu dapat terulang kembali, tak akan aku tidur terlalu lama.  Akan kugunakan setiap detik yang ada untuk menggenggam erat tangan mereka.  Menggandeng mereka pada arah yang benar.
Apa guna penyesalan ini.  Toh semua telah berlalu.  Dan ini semua juga bukan salahku.  Itulah kehidupan yang ada dewasa kini.  Semua hidup dalam kebahagiaaan yang tak nyata adanya.  Keserakahan manusia dalam mencari uang, yang tak pernah peduli pada alam.
Mungkin inilah katasthrope bagiku, sebagaimana yang diucapkan kawanku lima tahun silam.
“Ah, Lebih baik kupergi saja..”
Kubalikkan tubuhku, mengikuti alunan nada burung gereja yang tersisa.  Terbang ke ufuk barat menuju tempat yang jauh nan indah.  Semakin tinggi kuhempaskan, hingga kota itu pun tampak mengecil.  Semakin kecil dan akhirnya menghilang dari balik bukit yang masih permai ini.

Sang Pujangga,
Imam Andriano Risoyo
Cerpen ini dimuat pada Antologi cerpen Paranoia

Link buku Antologi:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar