Sepoi, begitulah cara orang-orang
memanggilku. Sosok yang polos dan selalu
setia menemani mereka. Pribadi yang tak
dapat melawan perubahan zaman.
Kususuri jalan setapak yang sudah
menerjal, curam dan
penuh genangan air. Becek. Hujan baru saja reda.
Semayup suara kecipak, butir-butir air jatuh dari pucuk daun mahoni. Daun-daun kering berserak. Aroma tanah basah, bau hancing daun dalam
genangan menyeruak, mengingatkanku pada lima tahun silam…….
Kicau burung-burung tilang terdengar
merdu dari pucuk pohon mundung dan lasep. Kutengok sudut lain, tampak
sekelompok kumbang mencuri pekerjaan para kupu. Sang mawar pun tampak
malu dengan menggoyang-goyangkan mahkotanya. Ingin ku turut serta, kuhempaskan tubuhku
menambah tarian para bunga.
Burung-burung camar
bergerombol ke selatan. Melawan sisa-sisa kabut tuk tinggalkan bukit.
Mencari usapan gizi, itulah yang harus dilakukan selama setengah hari.
Waktu berganti, hari
melangkahkan diri, semua itu bak sebuah perputaran. Terus terjadi dan
terjadi.
Dalam kebiasaan
ini, aku tak tahu apakah diriku cukup berguna. Yang pasti, kawan-kawanku
selalu memintaku tuk membantu mereka beradu layang-layang dengan anak desa
tetangga. Sesungguhnya pun aku tak mengerti apa yang harus kulakukan.
Seakan-akan akulah yang menentukan permainan, tanpa kehadiranku mereka tak yakin tuk melakukannya.
“Sepoi, cepeto lek mbrene !!” rekah senyum wajah polos mereka
membuatku bahagia.
“Ayo gelek endang lekasi !” aku
menimpali. Tak seorang pun menjawab. Ah biarlah ku tak menghiraukannya, toh tawa
mereka sudah membuatku senang.
***
Ketika senja
beranjak ke ranjangnya pun kawan-kawanku tetap mencariku. Yah, mereka tak
mau absen ngaji di surau, atau bayang-bayang lampor muncul di benak
mereka. Begitulah cerita yang sudah dikarang nenek moyang turun-temurun.
Yang pasti anak kecil gak boleh kakean polah ba’da maghrib sampai isya.
Di lain sisi,
anak-anak itu membenci Barat, teman seperjuanganku. Tanpa komando, aku
juga menolak keberadaan Barat. Bagaimana tidak, dengan keberadaan Barat
mereka tak mampu melanjutkan ngaji. Lilin-lilin kecil
yang diletakkan antara bedug dan kentongan akan berulang kali memejamkan
matanya.
***
Sepulang dari surau
bocah-bocah tengil itu biasa nongkrong
di tepi jalan desa yang masih berupa tatanan bebatuan yang rapi. Dibalik
batang-batang bambu celotehan
burung hantu terdengar, menandakan bahwa mereka akan pergi mencari makan.
Suara mereka serempak dalam sebuah irama ciptakan alunan apik dalam kepekatan senja.
Di saat itu
teman-temanku membakar tepes buah kelapa. Sabut-sabut kering yang
sangat mudah dilahap api. Menambah kemeriahan senja.
Kunang-kunang
temani rembulan ciptakan gemerlap malam. Menari-nari di balik pekatnya kabut. Menghimpun diri,
ciptakan penerangan di antara kukur burung hantu. Yah, meski jauh dari peradaban kota pun
kami dapat berpesta. Lengkap sudah kebahagiaan kami.
Namun, tak lama
kawanku bergembira, dalam kedipan
mata Barat berulah. Ia datang tak diundang, tanpa basa-basi ia mendekat.
Semua anak gelisah. Begitu pula
diriku. Kebahagiaan dan kemeriahaan berubah senyap dalam sekian waktu.
Semua diam.
“Katasthrope...katasthrope!!”
ujar salah seorang anak berambut pirang yang toh menurut kabar adalah peranakan
Eropa dengan pribumi. Tak ada seorang pun yang paham akan maksudnya.
Yang pasti raut wajah itu melambangkan rasa cemas.
Mungkin, musibah artinya.
Pesta yang digelar
rusak berantakan. Kesemrawutan menghantam purnama. Semua menjadi bubar.
Anak-anak berlarian menghamburkan diri, risalah suatu keporak-porandaan.
Kebahagiaan ditekan jiwa hitam. Perasaan pun gundah.
Inilah satu hal
yang membuatku membenci Barat. Selalu merusak kebahagiaan kawan-kawanku.
Rusak pula semua kebahagiaanku. Meski Barat hanya ingin bergabung,
tapi kehadirannya tak pernah diakui. Terkucillah ia.
Kadang jiwa ini
memberontak. Barat, saudara seperjuangankulah yang harus ku dekati.
Kita dilahirkan kembar, tetapi berbeda sifat. Aku yang terkenal
lembut, sedang ia terkesan kasar. Ah biarlah, Barat membuatku seorang
diri lagi. Kawan-kawanku telah sembunyi di gubuk mereka. Berulah
bersama mimpi masing-masing.
***
Ku berdiri melayang
di angkasa. Kekhawatiran muncul begitu saja. Liat saja sekelilingku, ini bukanlah
rumahku!! Ini hanyalah negeri monster, negeri penyiksaan. Mimpikah
diriku?
Mugkinkah aku
pantas bertanya, “Di manakah kawan-kawanku ?” tak ada lagi lahan bermain.
Gundukan lempung-lempung basah menjelma menjadi area produksi polusi. Menjulang tinggi
beton-beton pembatas diri. Asap-asap hitam menari-nari menuju angkasa.
Tak jarang pula para kaleng
dan cairan hitam pekat berenang di antara aliran air yang keluar dari pusat
kebisingan itu.
Monster-monster
raksasa memamerkan setiap bagian gigi runcingnya. Menghantam segala
sesuatu yang dijangkaunya. Begitu pula tanah-tanah subur itu. Ia
lahap, ia muntahkan di atas tubuh monster lain, dan kemudian dibawa entah
kemana. Sungguh pemandangan yang menyedihkan.
Tak ada lagi yang
leluasa berdiri di sini, kecuali diriku seorang. Menyaksikan
monster-monster itu mencabik-cabik setiap kenangan yang ada. “Bah, buat
apa aku banggakan ini, toh aku hanya sendiri.” Cerita ini seakan
mengalihkan perhatianku akan sebuah revolusi.
Kuhempaskan diriku
ke utara, seakan-akan harus dapatkan jawaban akan pertanyaan ini.
Mengais misteri akan sebuah perubahan terjadi.
Kupalingkan wajahku, mensurvey setiap
gejala yang terjadi di sekelilingku. Bahkan, tak satupun ku jumpai
kumbang dan tilang. Hanya sayup-sayup terdengar kidung jangkrik menggoda
telinga.
Kuhentikan diri di
antara ilalang. Berusaha menikmati alunan tersebut. Alunan lagu mereka
makin keras, bahkan saling bersahutan. Akan tetapi, bila aku dekati
suara-suara itu menghilang seketika.
“Hai jangkrik,
mengapa kalian berhenti bernyanyi?”
“Kami lapar
sekali.”
“Makanlah, mudah
kan masalah usai.”
“Dimana kita bisa
dapatkan makanan? Toh, ladang tempat kami hidup telah menghitam dan keras.”
Kuperhatikan
sekitar, tak ada lagi padang rumput. Semua ini telah menjelma indah,
sebuah neraka bagi kaum jangkrik ini.
“Maaf. Kalau begitu akan kucarikan
surga baru untuk kalian.
Sampai jumpa!!”
Sungguh, sudah
berapa lamakah aku tertidur. Seakan perubahan ini tak layak dihitung
waktu. Semua serba instan dan cepat.
***
Mentari telah muncul
kembali di ufuk timur. Memamerkan sinarnya dengan penuh rasa malu.
Cahaya keemaasan menghiasi ujung-ujung daun yang basah, menembus setiap
lekuk tubuhku. Kukembangkan senyum merekah. Menikmati fenomena
indah ini. Hmmm... saatnya kubermain bersama kawan-kawan lamaku.
Kuberanjak dari
peraduanku. Kuhempaskan badanku ke arah selatan. “Ooohh
tidaaakkkk....!!!” tak kuasa aku menahan teriak. Semua ini bukanlah
mimpi. Tak ada lagi tempat bermainku. Tak ada lagi lahan hijau itu.
Tak tampak seorang
pun kawan lamaku. Padahal inilah hari Minggu yang biasa dinanti-nati.
Kemeriahan areal ini hanyalah ditimbulkan kebisingan mesin-mesin beroda
itu. Kemeriahan semu yang dulu tak pernah ada.
Kucari-cari kembali
semua kawan lamaku. Kutemukan mereka di rumah masing-masing.
Dengan penuh
konsentrasi mereka lakukan aktivitas masing-masing. Seseorang sibuk
menonton televisi, yang lain sibuk menghitung uang mereka. Ah, semua
telah berubah. Mungkin
menghilangnya lahan bermain mereka telah membatasi setiap aktivitas yang ada.
Kuberbalik menuju jalan. Tampak Barat bersama teman-temannya datang
dari seberang. Mengobrak-abrik setiap
rumah yang ada. Mencabut tiang-tiang itu
dari akarnya. Menerbangkannya. Kemudian menjatuhkannya. Menghantam semua kawanku. Hingga mereka tergeletak tak berdaya.
Yah, Barat pastilah juga
marah. Tempat tinggalnya telah dirubah
seenaknya. Hilangnya pepohonan, areal
produksi yang kotor, membuatnya muak.
Tak sedikit pun yang dipikirkan manusia untuk kami.
Tak ada lagi keindahan dunia ini.
Keegoisan telah mendorong manusia dalam keterbatasan. Keterbatasan
mengembangkan moral dan rasa cinta pada alam. Yang akan berakibat buruk pada
mereka sendiri. Ah,, memang roda
telah berputar. Seandainya waktu dapat terulang kembali, tak akan aku
tidur terlalu lama. Akan kugunakan setiap detik yang ada untuk
menggenggam erat tangan mereka. Menggandeng mereka pada arah yang benar.
Apa guna penyesalan
ini. Toh semua telah berlalu. Dan ini semua juga bukan salahku.
Itulah kehidupan yang ada dewasa kini. Semua hidup dalam
kebahagiaaan yang tak nyata adanya. Keserakahan manusia dalam mencari uang,
yang tak pernah peduli pada alam.
Mungkin inilah katasthrope bagiku, sebagaimana yang diucapkan kawanku lima tahun
silam.
“Ah, Lebih baik
kupergi saja..”
Kubalikkan tubuhku,
mengikuti alunan nada burung gereja yang tersisa. Terbang ke ufuk barat
menuju tempat yang jauh nan indah. Semakin tinggi kuhempaskan, hingga
kota itu pun tampak mengecil. Semakin kecil dan akhirnya menghilang dari
balik bukit yang masih permai ini.
Sang Pujangga,
Imam Andriano Risoyo
Cerpen ini dimuat pada Antologi cerpen Paranoia
Link buku Antologi:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar