Aku
duduk merenung di bawah pohon mahoni. Melamun seorang diri membayangkan
tindakan bodohku selama sepekan ini. Tindakan yang memaksa hatiku hingga berada
di sini.
Erupsi
besar Merapi (Jumat dini hari), hujan pasir dan kerikil melanda Sleman dan Yogyakarta, semua orang panik menyelamatkan diri. Para
pengungsi di Harjobinangun direlokasi ke daerah yang lebih aman.
Semua
sekolah dan universitas di Yogyakarta diliburkan hingga waktu yang tidak
ditentukan, begitu juga kampusku. Kabar gembira bagiku, di tengah situasi
genting seperti ini. Aku dan seorang kawanku berniat menengok situasi di
Kaliurang, kami pun meluncur dengan menggunakan dua buah sepeda motor.
Semenjak
semalam berita-berita di televisi sangatlah heboh, terdengar kabar bahwa awan
panas atau yang dikenal masyarakat sebagai wedhus
gembel mencapai perkampungan warga hingga belasan kilometer dari puncak
Merapi. Kami yang merasa penasaran, menuju kesana.
Jalan
Kaliurang km.7 masih sangatlah ramai. Hingga kami melewati kampus UII, suasana
sangatlah berubah, jalanan sepi, keadaan mencekam. Hanya terdapat satu dua
orang yang berniat menyelamatkan harta benda mereka. Kami berbelok ke jalan
yang mengarah ke Kaliadem, hanya ada sekelompok brimob yang sedang mengantri
menaiki sebuah truk besar.
Tindakan
bodoh menurutku, bahaya yang mengancam diri sempat terpikir dalam benak, akan
tetapi semua itu terkalahkan oleh rasa penasaranku sebagai anak muda yang
sangat besar. Hingga kami berhenti pada sebuah jalan. Jalan menuju perkampungan
Kepuharjo sudah ditutup, kami mengurungkan niat untuk melanjutkan perjalanan.
Rasa takut dan cemas sudah menghantui kami. Sepeda motor kami putar balik dan
kami meluncur ke bawah.
Kami
pulang dengan tergesa-gesa, hingga lima menit kemudian dua orang berkendara
motor meneriaki dan menghentikan kami. Seorang
pengendara berbadan besar dan seorang yang memboncengnya berpostur sama membawa
sebuah celurit. Perasaan kami pun menjadi tidak enak. Apakah mereka orang jahat
dan akan membunuh dan meminta motor kami, hal itulah yang sempat terbesit dalam
benak.
“Maling
yo kowe..?” seseorang bertanya sambil menendang motorku. Kami sangat
kebingungan. Aku tak tahu apa maksud mereka.
“Bukan
mas,” aku menjawab pelan. Mereka pun menggeledah tas kami dan meminta kartu
identitas kami, tetapi mereka tak menemukan satu barang curian pun. Mereka
marah besar mengetahui kami hanya jalan-jalan ke sana. Mereka mengatakan kami
bodoh dan tolol, mereka menendang motor kami kembali, sampai akhirnya mereka
mengembalikan kartu identitas kami dan menyuruh kami pulang dengan perasaan
geram.
Memang
tidak berakal sehat tindakan kami,
suasana di Kaliurang memang sangat mencekam. Dan bodohnya lagi, kami dituduh
sebagai penjarah.
Muncul
perasaan dosa dalam diriku, aku
bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Bukannya aku membantu
meringankan beban, malah jalan-jalan ke daerah rawan bencana tersebut.
Selama
berhari-hari muncul rasa bersalah dalam diriku. Sebagai cendekiawan muda aku
masih tergoda dengan egoku. Dan akhirnya aku memutuskan menjadi seorang
relawan. Aku memprakarsai sebuah pendirian posko bencana bersama teman-temanku.
Kami menerima bahan-bahan logistik dan menyalurkannya ke tenda-tenda darurat.
Tak jarang kami juga membantu para relawan lain di tenda darurat.
Semoga
semua tindakanku ini dapat membayar dosa-dosa atas perbuatan bodohku. Yang
pasti, sekarang aku ikhlas melakukannya. Aku mendirikan posko ini dengan rasa
kesadaran yang besar, aku dan teman-teman melakukan dengan sukarela tanpa
niatan politik atau keuntungan lain.
Aku
sangat bangga pada diriku yang dapat meringankan beban orang lain. Mungkin
sebuah perjalanan hebat yang harus aku tempuh untuk mencapai kesadaran ini.
Hingga aku berada di sini, di bawah pohon mahoni ini, untuk menunggu
orang-orang yang akan mempercayakan kami menyalurkan bantuan logistik yang ada.
sang pujangga,
Imam Andriano Risoyo

