Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Maret 2013

Licht



Kini ku beranjak dewasa bergandengkan waktu.  Kumiliki banyak kawan dan sahabat, tapi hati ini tetap merasa hampa.  Aku yakin mereka hanya menjadi pelangi yang timbul akibat seberkas uraian titik hujan.  Mereka datang menghiasi hari-hariku yang sepi dan suatu saat nanti akan pergi kembali meninggalkanku dalam kesepian yang sama.
Usai sudah kutinggalkan cerita panjangku di SMA.  Cerita dongeng yang indah dimana kunikmati masa ceriaku yang tak akan kembali.  Kurun waktu disaat kumiliki teman-teman yang selalu merangkulku dalam kehangatan, kehebohan, kebahagiaan, dan juga kekonyolan.  Usia muda yang selalu disebut masa yang berapi-api, karena disana semangat kita membara untuk melakukan hal-hal yang kita inginkan.  Meski itu dilarang, menakutkan, maupun berbahaya sekali pun.
Namun, hidup ini harus terus berlanjut.  Pelangi harus pergi bersama butiran-butiran hujan yang menyejukkan bumi.  Kutahu, meski persahabatan tak akan usai termakan waktu, tapi kebersamaan itu tak akan sama lagi.  Kita harus mengendalikan kemudi kita masing-masing.  Melaju di antara alur waktu menuju cita-cita yang ingin kita gapai.  Meski harus sendiri.
Tiga tahun lebih ku sendiri.  Meski kudapati teman-teman yang baik, tapi mereka hanya seperti bintang-bintang.  Menerangi bumi, akan tetapi berada jauh tak tergapai.  Begitulah mereka, menjadi pelengkap warna hidupku meski tak akan mampu menerangi kehampaan yang berada jauh di dalam lubuk hatiku.
***
Hari ini ku masih sama seperti hari-hariku yang lain.  Penuh keceriaan dalam ekspresi, kekosongan dalam batin.  Begitu pula saat ku bertemu dengan wanita itu.  Wanita berkerudung yang muncul di antara orang-orang lain yang belum aku kenal. Orang-orang yang dipertemukan denganku dalam suatu kegiatan sosial.
Aku tak dapat melihat secara pasti seperti apa wajah wanita itu.  Tapi aku tahu pasti ia berbeda dengan orang-orang lain yang sedang berkumpul di aula itu.  Wajahnya yang bersih selalu disembunyikan dengan menghadap ke bawah. Memperjelas sosoknya yang sangat pemalu.  Matanya yang manis tak tampak di antara kerudung merah yang ia kenakan.  Sesekali hanya senyumnya yang tampak merekah menyapa kami.
Nur namanya.  Kata yang berasal dari bahasa Arab, orang Jerman menyebutnya Licht.  Nama yang simpel, tetapi mengandung arti yang indah, cahaya.  Mungkin suatu hari kedua orang tuanya mengharapkan kehadiran sosok yang dapat menjadi penerang keluarganya, bahkan orang-orang di sekitarnya.  Atau mungkin juga bayi yang mereka timang diharapkan mampu menjadi cahaya indah, pelita di antara cahaya gelap, kegelisahan, dan juga ketakutan.  Entah apapun itu, pasti mereka memiliki harapan yang mulia dalam nama tersebut.
***
Semakin bergulirnya waktu, semakin sering kita bertemu, semakin pula kumengenalnya.  Wajahnya yang manis, indah berseri, seperti namanya, pun mulai aku pahami.  Hanya satu hal yang belum aku tahu, rasa nyaman yang aku rasakan saat bersamanya.  Bagaimana aku mulai senang menggodanya, atau bahkan merayunya.  Bagaimana aku bisa membuatnya marah dan membuatnya merasa sebaliknya.  Begitu pula seperti yang ia lakukan padaku.
Hingga suatu saat, dimana kita harus melakukan kegiatan sosial selama sebulan penuh dan memaksa kami harus hidup bersama, aku semakin dekat dengannya.  Malam itu, ketika sedang tertidur di ruang tamu, aku sungguh merasa kedinginan.  Lokasi kegiatan yang berada di lereng pegunungan membuat hawa dingin yang menusuk tulang.  Maka tak jarang banyak rekanku yang jatuh sakit atau sekedar flu.
Ketika tengah malam menyapa, aku merasa ada seseorang yang mendekatiku.  Meski aku sempat terjaga dari tidurku, tapi malas bagiku untuk membuka mata.  Rasa kantuk yang begitu berat lebih mengajakku untuk tetap melanjutkan tidur.  Dan tiba-tiba terasa olehku, orang tersebut menutupi tubuhku dengan selembar selimut tebal.  Aku tak bergeming.  Begitu pula orang tersebut, seperti terdiam sesaat menghadapku, dan kemudian berbalik pergi.  Saat terdengar langkah kakinya yang mulai menjauh, dan daun pintu yang ia buka, kuintip dia dari kedua picingan mataku.  Nur, ternyata dia yang telah menyelimutiku.  Hingga aku merasa hangat.
Keesokan harinya, kuberpura-pura tak mengetahui kejadian semalam.  Saat anak-anak sedang berkumpul, ku bertanya pada mereka, “Sepertinya semalam aku tidur gak pake selimut, kok paginya udah selimutan ya? Siapa ya yang nyelimutin aku?”
Semua orang mengelak.  “Mungkin kamu lupa kali, aku liat kamu udah selimutan dari semalem,” ujar salah seorang.  Kucoba melirik Nur, wajahnya tertunduk seperti menyembunyikan sesuatu.  Dan aku tahu pasti apakah yang terjadi semalam.
***
Hari yang lain dalam serangkaian kegiatan sosial yang sedang kami ikuti.  Hatiku cemas. Gelisah.  Tapi tak pernah aku tunjukkan dalam raut wajah ini.
Pagi itu, Nur membangunkanku tuk meminta diantarkan ke dokter.  Tubuhnya lemas.  Leher sebelah kanan agak besar.  Badannya panas.  Wajahnya pucat.  Aku tak tahu apakah dia akan kuat membonceng sepeda motor menuju klinik.  Tapi semua itu tetap harus dihadapi agar kondisinya lebih baik.
Sesampai di klinik, dokter sedang keluar kota.  Kulihat wajahnya semakin pucat mendengarnya.  Aku tahu pasti apa yang dia rasakan, tapi aku harus tetap tenang untuk membuatnya lebih kuat. Maka kubalikkan arah motor menuju puskesmas.  Yah, terpaksa kami berobat di tempat yang serba terbatas itu.  Demi kesembuhannya.
Gondongan, itulah penyakit yang sedang ia alami.   Meski kondisinya lemas, tapi dia boleh pulang.  Dengan bekal obat yang diberikan dokter, diperkirakan lusa ia akan membaik. Kami pun bisa sedikit bernafas lega.
Sesampai di rumah, kuambilkan sepiring nasi dan telur asin untuk dia makan.  Karena dia masih terbaring lemas di kamar, aku tak bisa berlama-lama di kamar wanita.  Aku pun hanya bisa memastikan dia sudah minum obat ditemani teman sekamarnya.
Malam itu sebuah kisah baru aku alami, untuk pertama kalinya aku merasa sungguh perhatian pada seseorang. Inilah satu hal lagi yang belum aku ketahui kenapa.  Yang pasti aku tak mau dia jatuh sakit.
***
Sebulan telah berlalu.  Kegiatan sosial yang kami lakukan telah usai.  Senang hati rasanya bisa kembali pada rutinitas masing-masing.  Senang pula saat kami berhasil menjalankan seluruh program yang telah direncanakan.  Akan tetapi, dibalik semua itut, terdapat kesedihan yang kami rasakan.  Saat kami harus berpisah dengan sahabat-sahabat yang sudah seperti saudara.  Terutama saat aku harus berpisah dengan Nur.
Di hari itu, sebelum kami harus kembali ke rumah masing-masing, Nur mendekatiku.  Tak ada sepatah katapun yang ia ucapkan, kecuali, “Ini buat kamu,” ia menyodorkan boneka Teddy kesayangannya padaku.  Aku tak paham apa maksudnya, tapi boneka tersebut pasti akan membuatku sering teringat padanya.
***
Setelah kegiatan sosial tersebut aku masih sering bertemu dengan Nur.  Bahkan dia yang membantuku mengepak barang-barang sebelum aku harus terbang ke luar kota untuk melakukan praktek kuliah selama sebulan.  Dialah yang mempersiapkan seluruh perlengkapan kerjaku di perusahaan hingga obat-obat yang mungkin aku butuhkan jika jatuh sakit.  Aku semakin yakin akan pengaruh kehadirannya dalam hidupku.
Saat hari keberangkatan, ia turut menghantarkanku ke bandara bersama keluargaku.  Hingga waktuku untuk check in dan harus berpisah, wajahnya menggambarkan kesedihan melebihi keluargaku.  Dan saat aku akan naik ke atas pesawat, aku melihatnya menyertai keberangkatanku dari atas anjungan.
Aku melambaikan tangan ke arah Nur dan keluargaku, dan mereka pun membalasnya.  Tampak Nur seperti mengucapkan sesuatu dari balik kaca anjungan, tapi tak sedikitpun aku dengar.
Selama sebulan di perantauan, rasa rindu akan kampung halaman mendera.  Rasa rindu akan sosok Nur yang mulai sering bersamaku pun muncul.  Hanya komunikasi melalui ponsel maupun dengan menatap si Teddy yang dapat menjadi obat rindu.  Lalu perasaan itu kian menajam saat dia marah padaku.
Untuk kesekian kalinya aku tak menjawab pertanyaan Nur perihal tanggal kepulanganku.  Aku tahu dia juga sangat merindukan kedatanganku.  Namun, ada niat lain untuk memberikan kejutan untuknya.  Namun, niat itu pun sirna manakala ia mengancamku tak mau bertemu lagi jika aku tak mengaku.
***
Sudah seminggu aku kembali ke kampung halaman.  Rasa rindu yang semakin mendalam pada semua hal di kota itu terobati sudah.  Begitu pula saat aku mendatangi kos Nur untuk memberikan oleh-oleh, rasa bahagia tak dapat ia sembunyikan lagi.  Ia jadi salah tingkah.
Di minggu itu pula aku mendatangi kampusnya.  Aku mengungkapkan seluruh isi hatiku padanya di taman kampus.  Aku ingin menjadi bagian dari hidupnya, begitu juga dia untuk hidupku.  Aku tak menghiraukan setiap kelebihan maupun kekurangannya, karena bagiku kesempurnaan bukanlah hal yang aku cari, tapi bagaimana dia mampu membuatku merasa lebih sempurna, itulah yang telah aku dapatkan darinya.
Namun, ia belum bisa untuk menjawab pertanyaanku.  Aku tahu akan keadaannya.  Baru setahun lalu ia putus dengan mantannya.  Rasa sakit dan rasa takut akan mengalaminya lagi pasti masih ia rasakan.  Akupun tak mampu berbuat apa-apa, karena aku hanya ingin mengharagainya.
Dua minggu kemudian, tepat tanggal 12 Desember 2012 dia memintaku datang ke kosannya.  Aku takut sekali jika dia jatuh sakit lagi seperti dulu.  Atau mungkin dia meminta tolong untuk keperluan lain.  Sepanjang perjalanan aku hanya mampu bertanya-tanya.
Sesampai di kosannya, kami duduk berdua di ruang tamu.  Dia mengenakan kaos putih dan rok batik panjang yang membuatnya tampil lebih cantik.  Aku tak berhenti untuk berulang kali meliriknya.
Sepuluh menit pertama kami hanya saling diam.  Aku menunggunya, tapi dia juga tak mengucapkan sepatah katapun.  “Ada apa?” aku berusaha mencairkan suasana.
Dia hanya menjawab, “Aku sayang kamu.”  Tak ada kata lain yang ia ucapkan.  Jantungku berdegup kencang.  Pikiranku gak karuan.  Wajahku memerah.  Otot-otot tangan dan kakiku serasa tak bisa digerakkan.  Bukan karena aku sakit, tapi karena hatiku terlalu bahagia.  Hari itu aku resmi pacaran dengannya.
***
Sudah lama sudah kami jalan bersama.  Banyak hal baru yang mulai aku ketahui darinya.  Dia yang sering ngambek jika aku cuekkan.  Dia yang begitu perhatian.  Dia yang serba bisa.  Dia yang selalu memikirkanku.  Dia yang lemah lembut.  Dia yang manja.  Dia yang polos. Dia yang selalu membuatku semakin cinta kepadanya.
Hari ini, aku berusaha menyelesaikan syair ini.  Aku ingin memberikan hal yang paling indah yang akan membuatmu bahagia.  Mungkin, saat ini kamu sedang marah padaku karena sengaja dua hari tak aku beri kabar. Sungguh susah menuliskan kisah tentang dirimu, karena semuanya terlalu banyak dan terlalu indah sehingga sulit untuk diungkapkan.  Namun aku tetap ingin berusaha untuk menyelesaikannya meski harus menghabiskan weekend ku untuk berimajinasi.
Maaf, jika hanya syair ini yang dapat aku berikan untukmu..
Akankah kita rela kehilangan orang yang sangat kita cintai?  Apakah kita sanggup berpisah dengan orang yang kita sayangi? Kesendirian di masa kecil itu sangat menakutkan, tetapi masa depan tanpa cinta itu lebih menyakitkan.  Saat ku bertemu denganmu, kutuliskan syair ini.  Ku mengerti bahwa kau tak pandai bersyair, tapi apakah yang akan kau rasakan ketika kau tahu ku menulisnya karenamu? Saat mengenalmu, kuberanikan diri tuk mencintaimu, dan aku tak takut lagi akan kehilanganmu karena suatu hari nanti ku berjanji akan memilikimu seutuhnya..
Nur, apapun makna dibalik namamu, aku yakin kau akan menjadi cahaya dalam hidupku..

                                                                                                             Magelang, 17 Maret 2013

Sabtu, 27 Oktober 2012

Perjalanan Hebat



Aku duduk merenung di bawah pohon mahoni. Melamun seorang diri membayangkan tindakan bodohku selama sepekan ini. Tindakan yang memaksa hatiku hingga berada di sini.
Erupsi besar Merapi (Jumat dini hari), hujan pasir dan kerikil melanda Sleman dan Yogyakarta,  semua orang panik menyelamatkan diri. Para pengungsi di Harjobinangun direlokasi ke daerah yang lebih aman.
Semua sekolah dan universitas di Yogyakarta diliburkan hingga waktu yang tidak ditentukan, begitu juga kampusku. Kabar gembira bagiku, di tengah situasi genting seperti ini. Aku dan seorang kawanku berniat menengok situasi di Kaliurang, kami pun meluncur dengan menggunakan dua buah sepeda motor.
Semenjak semalam berita-berita di televisi sangatlah heboh, terdengar kabar bahwa awan panas atau yang dikenal masyarakat sebagai wedhus gembel mencapai perkampungan warga hingga belasan kilometer dari puncak Merapi. Kami yang merasa penasaran, menuju kesana.
Jalan Kaliurang km.7 masih sangatlah ramai. Hingga kami melewati kampus UII, suasana sangatlah berubah, jalanan sepi, keadaan mencekam. Hanya terdapat satu dua orang yang berniat menyelamatkan harta benda mereka. Kami berbelok ke jalan yang mengarah ke Kaliadem, hanya ada sekelompok brimob yang sedang mengantri menaiki sebuah truk besar.
Tindakan bodoh menurutku, bahaya yang mengancam diri sempat terpikir dalam benak, akan tetapi semua itu terkalahkan oleh rasa penasaranku sebagai anak muda yang sangat besar. Hingga kami berhenti pada sebuah jalan. Jalan menuju perkampungan Kepuharjo sudah ditutup, kami mengurungkan niat untuk melanjutkan perjalanan. Rasa takut dan cemas sudah menghantui kami. Sepeda motor kami putar balik dan kami meluncur ke bawah.
Kami pulang dengan tergesa-gesa, hingga lima menit kemudian dua orang berkendara motor meneriaki dan menghentikan kami.  Seorang pengendara berbadan besar dan seorang yang memboncengnya berpostur sama membawa sebuah celurit. Perasaan kami pun menjadi tidak enak. Apakah mereka orang jahat dan akan membunuh dan meminta motor kami, hal itulah yang sempat terbesit dalam benak.
“Maling yo kowe..?” seseorang bertanya sambil menendang motorku. Kami sangat kebingungan. Aku tak tahu apa maksud mereka.
“Bukan mas,” aku menjawab pelan. Mereka pun menggeledah tas kami dan meminta kartu identitas kami, tetapi mereka tak menemukan satu barang curian pun. Mereka marah besar mengetahui kami hanya jalan-jalan ke sana. Mereka mengatakan kami bodoh dan tolol, mereka menendang motor kami kembali, sampai akhirnya mereka mengembalikan kartu identitas kami dan menyuruh kami pulang dengan perasaan geram.
Memang tidak berakal sehat  tindakan kami, suasana di Kaliurang memang sangat mencekam. Dan bodohnya lagi, kami dituduh sebagai penjarah.
Muncul perasaan  dosa dalam diriku, aku bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Bukannya aku membantu meringankan beban, malah jalan-jalan ke daerah rawan bencana tersebut.
Selama berhari-hari muncul rasa bersalah dalam diriku. Sebagai cendekiawan muda aku masih tergoda dengan egoku. Dan akhirnya aku memutuskan menjadi seorang relawan. Aku memprakarsai sebuah pendirian posko bencana bersama teman-temanku. Kami menerima bahan-bahan logistik dan menyalurkannya ke tenda-tenda darurat. Tak jarang kami juga membantu para relawan lain di tenda darurat.
Semoga semua tindakanku ini dapat membayar dosa-dosa atas perbuatan bodohku. Yang pasti, sekarang aku ikhlas melakukannya. Aku mendirikan posko ini dengan rasa kesadaran yang besar, aku dan teman-teman melakukan dengan sukarela tanpa niatan politik atau keuntungan lain.
Aku sangat bangga pada diriku yang dapat meringankan beban orang lain. Mungkin sebuah perjalanan hebat yang harus aku tempuh untuk mencapai kesadaran ini. Hingga aku berada di sini, di bawah pohon mahoni ini, untuk menunggu orang-orang yang akan mempercayakan kami menyalurkan bantuan logistik yang ada.

sang pujangga, 
Imam Andriano Risoyo

Minggu, 21 Oktober 2012

Katasthrope


Sepoi, begitulah cara orang-orang memanggilku.  Sosok yang polos dan selalu setia menemani mereka.  Pribadi yang tak dapat melawan perubahan zaman.
Kususuri  jalan setapak yang sudah menerjal, curam dan penuh genangan air. Becek. Hujan baru saja reda.  Semayup suara kecipak, butir-butir air jatuh dari pucuk daun mahoni. Daun-daun kering berserak. Aroma tanah basah, bau hancing daun dalam genangan menyeruak, mengingatkanku pada lima tahun silam…….

Kicau burung-burung tilang terdengar merdu dari pucuk pohon mundung dan lasep.  Kutengok sudut lain, tampak sekelompok kumbang mencuri pekerjaan para kupu.  Sang mawar pun tampak malu dengan menggoyang-goyangkan mahkotanya.  Ingin ku turut serta, kuhempaskan tubuhku menambah tarian para bunga.
Burung-burung camar bergerombol ke selatan.  Melawan sisa-sisa kabut tuk tinggalkan bukit.  Mencari usapan gizi, itulah yang harus dilakukan selama setengah hari.  Waktu berganti, hari melangkahkan diri, semua itu bak sebuah perputaran.  Terus terjadi dan terjadi.
Dalam kebiasaan ini, aku tak tahu apakah diriku cukup berguna.  Yang pasti, kawan-kawanku selalu memintaku tuk membantu mereka beradu layang-layang dengan anak desa tetangga.  Sesungguhnya pun aku tak mengerti apa yang harus kulakukan.  Seakan-akan akulah yang menentukan permainan, tanpa kehadiranku mereka tak yakin tuk melakukannya.
“Sepoi, cepeto lek mbrene !!” rekah senyum wajah polos mereka membuatku bahagia.
“Ayo gelek endang lekasi !” aku menimpali.  Tak seorang pun menjawab.  Ah biarlah ku tak menghiraukannya, toh tawa mereka sudah membuatku senang.

***

Ketika senja beranjak ke ranjangnya pun kawan-kawanku tetap mencariku.  Yah, mereka tak mau absen ngaji di surau, atau bayang-bayang lampor muncul di benak mereka.  Begitulah cerita yang sudah dikarang nenek moyang turun-temurun.  Yang pasti anak kecil gak boleh kakean polah ba’da maghrib sampai isya.
Di lain sisi, anak-anak itu membenci Barat, teman seperjuanganku.  Tanpa komando, aku juga menolak keberadaan Barat.  Bagaimana tidak, dengan keberadaan Barat mereka tak mampu melanjutkan ngaji.  Lilin-lilin kecil yang diletakkan antara bedug dan kentongan akan berulang kali memejamkan matanya.

***

Sepulang dari surau bocah-bocah tengil itu biasa nongkrong di tepi jalan desa yang masih berupa tatanan bebatuan yang rapi.  Dibalik batang-batang bambu celotehan burung hantu terdengar, menandakan bahwa mereka akan pergi mencari makan.  Suara mereka serempak dalam sebuah irama ciptakan alunan apik dalam kepekatan senja.
Di saat itu teman-temanku membakar tepes buah kelapa.  Sabut-sabut kering yang sangat mudah dilahap api.  Menambah kemeriahan senja.
Kunang-kunang temani rembulan ciptakan gemerlap malam.  Menari-nari di balik pekatnya kabut.  Menghimpun diri, ciptakan penerangan di antara kukur burung hantu.  Yah, meski jauh dari peradaban kota pun kami dapat berpesta.  Lengkap sudah kebahagiaan kami.
Namun, tak lama kawanku bergembira, dalam kedipan mata Barat berulah.  Ia datang tak diundang, tanpa basa-basi ia mendekat.
Semua anak gelisah.  Begitu pula diriku.  Kebahagiaan dan kemeriahaan berubah senyap dalam sekian waktu.  Semua diam.
“Katasthrope...katasthrope!!” ujar salah seorang anak berambut pirang yang toh menurut kabar adalah peranakan Eropa dengan pribumi.  Tak ada seorang pun yang paham akan maksudnya.  Yang pasti raut wajah itu melambangkan rasa cemas.  Mungkin, musibah artinya.
Pesta yang digelar rusak berantakan.  Kesemrawutan menghantam purnama.  Semua menjadi bubar.  Anak-anak berlarian menghamburkan diri, risalah suatu keporak-porandaan.  Kebahagiaan ditekan jiwa hitam.  Perasaan pun gundah.
Inilah satu hal yang membuatku membenci Barat.  Selalu merusak kebahagiaan kawan-kawanku.  Rusak pula semua kebahagiaanku.  Meski Barat hanya ingin bergabung, tapi kehadirannya tak pernah diakui.  Terkucillah ia.
Kadang jiwa ini memberontak.  Barat, saudara seperjuangankulah yang harus ku dekati.  Kita dilahirkan kembar, tetapi berbeda sifat.  Aku yang terkenal lembut, sedang ia terkesan kasar.  Ah biarlah, Barat membuatku seorang diri lagi.  Kawan-kawanku telah sembunyi di gubuk mereka.  Berulah bersama mimpi masing-masing.

***

Ku berdiri melayang di angkasa.  Kekhawatiran muncul begitu saja. Liat saja sekelilingku, ini bukanlah rumahku!!  Ini hanyalah negeri monster, negeri penyiksaan.  Mimpikah diriku?
Mugkinkah aku pantas bertanya, “Di manakah kawan-kawanku ?” tak ada lagi lahan bermain.  Gundukan lempung-lempung basah menjelma menjadi area produksi polusi.  Menjulang tinggi beton-beton pembatas diri.  Asap-asap hitam menari-nari menuju angkasa.  Tak jarang pula para kaleng dan cairan hitam pekat berenang di antara aliran air yang keluar dari pusat kebisingan itu.
Monster-monster raksasa memamerkan setiap bagian gigi runcingnya.  Menghantam segala sesuatu yang dijangkaunya.  Begitu pula tanah-tanah subur itu.  Ia lahap, ia muntahkan di atas tubuh monster lain, dan kemudian dibawa entah kemana.  Sungguh pemandangan yang menyedihkan.
Tak ada lagi yang leluasa berdiri di sini, kecuali diriku seorang.  Menyaksikan monster-monster itu mencabik-cabik setiap kenangan yang ada.  “Bah, buat apa aku banggakan ini, toh aku hanya sendiri.”  Cerita ini seakan mengalihkan perhatianku akan sebuah revolusi.
Kuhempaskan diriku ke utara,  seakan-akan harus dapatkan jawaban akan pertanyaan ini.  Mengais misteri akan sebuah perubahan terjadi.
Kupalingkan wajahku, mensurvey setiap gejala yang terjadi di sekelilingku.  Bahkan, tak satupun ku jumpai kumbang dan tilang.  Hanya sayup-sayup terdengar kidung jangkrik menggoda telinga.
Kuhentikan diri di antara ilalang. Berusaha menikmati alunan tersebut.  Alunan lagu mereka makin keras, bahkan saling bersahutan.  Akan tetapi, bila aku dekati suara-suara itu menghilang seketika.
“Hai jangkrik, mengapa kalian berhenti bernyanyi?”
“Kami lapar sekali.”
“Makanlah, mudah kan masalah usai.”
“Dimana kita bisa dapatkan makanan? Toh, ladang tempat kami hidup telah menghitam dan keras.”
Kuperhatikan sekitar, tak ada lagi padang rumput.  Semua ini telah menjelma indah, sebuah neraka bagi kaum jangkrik ini.
Maaf.  Kalau begitu akan kucarikan surga baru untuk kalian.  Sampai jumpa!!”
Sungguh, sudah berapa lamakah aku tertidur.  Seakan perubahan ini tak layak dihitung waktu.  Semua serba instan dan cepat.

***

Mentari telah muncul kembali di ufuk timur.  Memamerkan sinarnya dengan penuh rasa malu.  Cahaya keemaasan menghiasi ujung-ujung daun yang basah, menembus setiap lekuk tubuhku.  Kukembangkan senyum merekah.  Menikmati fenomena indah ini.  Hmmm... saatnya kubermain bersama kawan-kawan lamaku.
Kuberanjak dari peraduanku.  Kuhempaskan badanku ke arah selatan.  “Ooohh tidaaakkkk....!!!” tak kuasa aku menahan teriak.  Semua ini bukanlah mimpi.  Tak ada lagi tempat bermainku.  Tak ada lagi lahan hijau itu.
Tak tampak seorang pun kawan lamaku.  Padahal inilah hari Minggu yang biasa dinanti-nati.  Kemeriahan areal ini hanyalah ditimbulkan kebisingan mesin-mesin beroda itu.  Kemeriahan semu yang dulu tak pernah ada.
Kucari-cari kembali semua kawan lamaku.  Kutemukan mereka di rumah masing-masing.   Dengan penuh konsentrasi mereka lakukan aktivitas masing-masing.  Seseorang sibuk menonton televisi, yang lain sibuk menghitung uang mereka.  Ah, semua telah berubah. Mungkin menghilangnya lahan bermain mereka telah membatasi setiap aktivitas yang ada.
Kuberbalik menuju jalan.  Tampak Barat bersama teman-temannya datang dari seberang.  Mengobrak-abrik setiap rumah yang ada.  Mencabut tiang-tiang itu dari akarnya.  Menerbangkannya.  Kemudian menjatuhkannya.  Menghantam semua kawanku.  Hingga mereka tergeletak tak berdaya.
Yah, Barat pastilah juga marah.  Tempat tinggalnya telah dirubah seenaknya.  Hilangnya pepohonan, areal produksi yang kotor, membuatnya muak.  Tak sedikit pun yang dipikirkan manusia untuk kami.
Tak ada lagi keindahan dunia ini.  Keegoisan telah mendorong manusia dalam keterbatasan.  Keterbatasan mengembangkan moral dan rasa cinta pada alam.  Yang akan berakibat buruk pada mereka sendiri.  Ah,, memang roda telah berputar.  Seandainya waktu dapat terulang kembali, tak akan aku tidur terlalu lama.  Akan kugunakan setiap detik yang ada untuk menggenggam erat tangan mereka.  Menggandeng mereka pada arah yang benar.
Apa guna penyesalan ini.  Toh semua telah berlalu.  Dan ini semua juga bukan salahku.  Itulah kehidupan yang ada dewasa kini.  Semua hidup dalam kebahagiaaan yang tak nyata adanya.  Keserakahan manusia dalam mencari uang, yang tak pernah peduli pada alam.
Mungkin inilah katasthrope bagiku, sebagaimana yang diucapkan kawanku lima tahun silam.
“Ah, Lebih baik kupergi saja..”
Kubalikkan tubuhku, mengikuti alunan nada burung gereja yang tersisa.  Terbang ke ufuk barat menuju tempat yang jauh nan indah.  Semakin tinggi kuhempaskan, hingga kota itu pun tampak mengecil.  Semakin kecil dan akhirnya menghilang dari balik bukit yang masih permai ini.

Sang Pujangga,
Imam Andriano Risoyo
Cerpen ini dimuat pada Antologi cerpen Paranoia

Link buku Antologi: