Sabtu, 27 Oktober 2012

Perjalanan Hebat



Aku duduk merenung di bawah pohon mahoni. Melamun seorang diri membayangkan tindakan bodohku selama sepekan ini. Tindakan yang memaksa hatiku hingga berada di sini.
Erupsi besar Merapi (Jumat dini hari), hujan pasir dan kerikil melanda Sleman dan Yogyakarta,  semua orang panik menyelamatkan diri. Para pengungsi di Harjobinangun direlokasi ke daerah yang lebih aman.
Semua sekolah dan universitas di Yogyakarta diliburkan hingga waktu yang tidak ditentukan, begitu juga kampusku. Kabar gembira bagiku, di tengah situasi genting seperti ini. Aku dan seorang kawanku berniat menengok situasi di Kaliurang, kami pun meluncur dengan menggunakan dua buah sepeda motor.
Semenjak semalam berita-berita di televisi sangatlah heboh, terdengar kabar bahwa awan panas atau yang dikenal masyarakat sebagai wedhus gembel mencapai perkampungan warga hingga belasan kilometer dari puncak Merapi. Kami yang merasa penasaran, menuju kesana.
Jalan Kaliurang km.7 masih sangatlah ramai. Hingga kami melewati kampus UII, suasana sangatlah berubah, jalanan sepi, keadaan mencekam. Hanya terdapat satu dua orang yang berniat menyelamatkan harta benda mereka. Kami berbelok ke jalan yang mengarah ke Kaliadem, hanya ada sekelompok brimob yang sedang mengantri menaiki sebuah truk besar.
Tindakan bodoh menurutku, bahaya yang mengancam diri sempat terpikir dalam benak, akan tetapi semua itu terkalahkan oleh rasa penasaranku sebagai anak muda yang sangat besar. Hingga kami berhenti pada sebuah jalan. Jalan menuju perkampungan Kepuharjo sudah ditutup, kami mengurungkan niat untuk melanjutkan perjalanan. Rasa takut dan cemas sudah menghantui kami. Sepeda motor kami putar balik dan kami meluncur ke bawah.
Kami pulang dengan tergesa-gesa, hingga lima menit kemudian dua orang berkendara motor meneriaki dan menghentikan kami.  Seorang pengendara berbadan besar dan seorang yang memboncengnya berpostur sama membawa sebuah celurit. Perasaan kami pun menjadi tidak enak. Apakah mereka orang jahat dan akan membunuh dan meminta motor kami, hal itulah yang sempat terbesit dalam benak.
“Maling yo kowe..?” seseorang bertanya sambil menendang motorku. Kami sangat kebingungan. Aku tak tahu apa maksud mereka.
“Bukan mas,” aku menjawab pelan. Mereka pun menggeledah tas kami dan meminta kartu identitas kami, tetapi mereka tak menemukan satu barang curian pun. Mereka marah besar mengetahui kami hanya jalan-jalan ke sana. Mereka mengatakan kami bodoh dan tolol, mereka menendang motor kami kembali, sampai akhirnya mereka mengembalikan kartu identitas kami dan menyuruh kami pulang dengan perasaan geram.
Memang tidak berakal sehat  tindakan kami, suasana di Kaliurang memang sangat mencekam. Dan bodohnya lagi, kami dituduh sebagai penjarah.
Muncul perasaan  dosa dalam diriku, aku bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Bukannya aku membantu meringankan beban, malah jalan-jalan ke daerah rawan bencana tersebut.
Selama berhari-hari muncul rasa bersalah dalam diriku. Sebagai cendekiawan muda aku masih tergoda dengan egoku. Dan akhirnya aku memutuskan menjadi seorang relawan. Aku memprakarsai sebuah pendirian posko bencana bersama teman-temanku. Kami menerima bahan-bahan logistik dan menyalurkannya ke tenda-tenda darurat. Tak jarang kami juga membantu para relawan lain di tenda darurat.
Semoga semua tindakanku ini dapat membayar dosa-dosa atas perbuatan bodohku. Yang pasti, sekarang aku ikhlas melakukannya. Aku mendirikan posko ini dengan rasa kesadaran yang besar, aku dan teman-teman melakukan dengan sukarela tanpa niatan politik atau keuntungan lain.
Aku sangat bangga pada diriku yang dapat meringankan beban orang lain. Mungkin sebuah perjalanan hebat yang harus aku tempuh untuk mencapai kesadaran ini. Hingga aku berada di sini, di bawah pohon mahoni ini, untuk menunggu orang-orang yang akan mempercayakan kami menyalurkan bantuan logistik yang ada.

sang pujangga, 
Imam Andriano Risoyo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar