Minggu, 21 Oktober 2012

Katasthrope


Sepoi, begitulah cara orang-orang memanggilku.  Sosok yang polos dan selalu setia menemani mereka.  Pribadi yang tak dapat melawan perubahan zaman.
Kususuri  jalan setapak yang sudah menerjal, curam dan penuh genangan air. Becek. Hujan baru saja reda.  Semayup suara kecipak, butir-butir air jatuh dari pucuk daun mahoni. Daun-daun kering berserak. Aroma tanah basah, bau hancing daun dalam genangan menyeruak, mengingatkanku pada lima tahun silam…….

Kicau burung-burung tilang terdengar merdu dari pucuk pohon mundung dan lasep.  Kutengok sudut lain, tampak sekelompok kumbang mencuri pekerjaan para kupu.  Sang mawar pun tampak malu dengan menggoyang-goyangkan mahkotanya.  Ingin ku turut serta, kuhempaskan tubuhku menambah tarian para bunga.
Burung-burung camar bergerombol ke selatan.  Melawan sisa-sisa kabut tuk tinggalkan bukit.  Mencari usapan gizi, itulah yang harus dilakukan selama setengah hari.  Waktu berganti, hari melangkahkan diri, semua itu bak sebuah perputaran.  Terus terjadi dan terjadi.
Dalam kebiasaan ini, aku tak tahu apakah diriku cukup berguna.  Yang pasti, kawan-kawanku selalu memintaku tuk membantu mereka beradu layang-layang dengan anak desa tetangga.  Sesungguhnya pun aku tak mengerti apa yang harus kulakukan.  Seakan-akan akulah yang menentukan permainan, tanpa kehadiranku mereka tak yakin tuk melakukannya.
“Sepoi, cepeto lek mbrene !!” rekah senyum wajah polos mereka membuatku bahagia.
“Ayo gelek endang lekasi !” aku menimpali.  Tak seorang pun menjawab.  Ah biarlah ku tak menghiraukannya, toh tawa mereka sudah membuatku senang.

***

Ketika senja beranjak ke ranjangnya pun kawan-kawanku tetap mencariku.  Yah, mereka tak mau absen ngaji di surau, atau bayang-bayang lampor muncul di benak mereka.  Begitulah cerita yang sudah dikarang nenek moyang turun-temurun.  Yang pasti anak kecil gak boleh kakean polah ba’da maghrib sampai isya.
Di lain sisi, anak-anak itu membenci Barat, teman seperjuanganku.  Tanpa komando, aku juga menolak keberadaan Barat.  Bagaimana tidak, dengan keberadaan Barat mereka tak mampu melanjutkan ngaji.  Lilin-lilin kecil yang diletakkan antara bedug dan kentongan akan berulang kali memejamkan matanya.

***

Sepulang dari surau bocah-bocah tengil itu biasa nongkrong di tepi jalan desa yang masih berupa tatanan bebatuan yang rapi.  Dibalik batang-batang bambu celotehan burung hantu terdengar, menandakan bahwa mereka akan pergi mencari makan.  Suara mereka serempak dalam sebuah irama ciptakan alunan apik dalam kepekatan senja.
Di saat itu teman-temanku membakar tepes buah kelapa.  Sabut-sabut kering yang sangat mudah dilahap api.  Menambah kemeriahan senja.
Kunang-kunang temani rembulan ciptakan gemerlap malam.  Menari-nari di balik pekatnya kabut.  Menghimpun diri, ciptakan penerangan di antara kukur burung hantu.  Yah, meski jauh dari peradaban kota pun kami dapat berpesta.  Lengkap sudah kebahagiaan kami.
Namun, tak lama kawanku bergembira, dalam kedipan mata Barat berulah.  Ia datang tak diundang, tanpa basa-basi ia mendekat.
Semua anak gelisah.  Begitu pula diriku.  Kebahagiaan dan kemeriahaan berubah senyap dalam sekian waktu.  Semua diam.
“Katasthrope...katasthrope!!” ujar salah seorang anak berambut pirang yang toh menurut kabar adalah peranakan Eropa dengan pribumi.  Tak ada seorang pun yang paham akan maksudnya.  Yang pasti raut wajah itu melambangkan rasa cemas.  Mungkin, musibah artinya.
Pesta yang digelar rusak berantakan.  Kesemrawutan menghantam purnama.  Semua menjadi bubar.  Anak-anak berlarian menghamburkan diri, risalah suatu keporak-porandaan.  Kebahagiaan ditekan jiwa hitam.  Perasaan pun gundah.
Inilah satu hal yang membuatku membenci Barat.  Selalu merusak kebahagiaan kawan-kawanku.  Rusak pula semua kebahagiaanku.  Meski Barat hanya ingin bergabung, tapi kehadirannya tak pernah diakui.  Terkucillah ia.
Kadang jiwa ini memberontak.  Barat, saudara seperjuangankulah yang harus ku dekati.  Kita dilahirkan kembar, tetapi berbeda sifat.  Aku yang terkenal lembut, sedang ia terkesan kasar.  Ah biarlah, Barat membuatku seorang diri lagi.  Kawan-kawanku telah sembunyi di gubuk mereka.  Berulah bersama mimpi masing-masing.

***

Ku berdiri melayang di angkasa.  Kekhawatiran muncul begitu saja. Liat saja sekelilingku, ini bukanlah rumahku!!  Ini hanyalah negeri monster, negeri penyiksaan.  Mimpikah diriku?
Mugkinkah aku pantas bertanya, “Di manakah kawan-kawanku ?” tak ada lagi lahan bermain.  Gundukan lempung-lempung basah menjelma menjadi area produksi polusi.  Menjulang tinggi beton-beton pembatas diri.  Asap-asap hitam menari-nari menuju angkasa.  Tak jarang pula para kaleng dan cairan hitam pekat berenang di antara aliran air yang keluar dari pusat kebisingan itu.
Monster-monster raksasa memamerkan setiap bagian gigi runcingnya.  Menghantam segala sesuatu yang dijangkaunya.  Begitu pula tanah-tanah subur itu.  Ia lahap, ia muntahkan di atas tubuh monster lain, dan kemudian dibawa entah kemana.  Sungguh pemandangan yang menyedihkan.
Tak ada lagi yang leluasa berdiri di sini, kecuali diriku seorang.  Menyaksikan monster-monster itu mencabik-cabik setiap kenangan yang ada.  “Bah, buat apa aku banggakan ini, toh aku hanya sendiri.”  Cerita ini seakan mengalihkan perhatianku akan sebuah revolusi.
Kuhempaskan diriku ke utara,  seakan-akan harus dapatkan jawaban akan pertanyaan ini.  Mengais misteri akan sebuah perubahan terjadi.
Kupalingkan wajahku, mensurvey setiap gejala yang terjadi di sekelilingku.  Bahkan, tak satupun ku jumpai kumbang dan tilang.  Hanya sayup-sayup terdengar kidung jangkrik menggoda telinga.
Kuhentikan diri di antara ilalang. Berusaha menikmati alunan tersebut.  Alunan lagu mereka makin keras, bahkan saling bersahutan.  Akan tetapi, bila aku dekati suara-suara itu menghilang seketika.
“Hai jangkrik, mengapa kalian berhenti bernyanyi?”
“Kami lapar sekali.”
“Makanlah, mudah kan masalah usai.”
“Dimana kita bisa dapatkan makanan? Toh, ladang tempat kami hidup telah menghitam dan keras.”
Kuperhatikan sekitar, tak ada lagi padang rumput.  Semua ini telah menjelma indah, sebuah neraka bagi kaum jangkrik ini.
“Maaf.  Kalau begitu akan kucarikan surga baru untuk kalian.  Sampai jumpa!!”
Sungguh, sudah berapa lamakah aku tertidur.  Seakan perubahan ini tak layak dihitung waktu.  Semua serba instan dan cepat.

***

Mentari telah muncul kembali di ufuk timur.  Memamerkan sinarnya dengan penuh rasa malu.  Cahaya keemaasan menghiasi ujung-ujung daun yang basah, menembus setiap lekuk tubuhku.  Kukembangkan senyum merekah.  Menikmati fenomena indah ini.  Hmmm... saatnya kubermain bersama kawan-kawan lamaku.
Kuberanjak dari peraduanku.  Kuhempaskan badanku ke arah selatan.  “Ooohh tidaaakkkk....!!!” tak kuasa aku menahan teriak.  Semua ini bukanlah mimpi.  Tak ada lagi tempat bermainku.  Tak ada lagi lahan hijau itu.
Tak tampak seorang pun kawan lamaku.  Padahal inilah hari Minggu yang biasa dinanti-nati.  Kemeriahan areal ini hanyalah ditimbulkan kebisingan mesin-mesin beroda itu.  Kemeriahan semu yang dulu tak pernah ada.
Kucari-cari kembali semua kawan lamaku.  Kutemukan mereka di rumah masing-masing.   Dengan penuh konsentrasi mereka lakukan aktivitas masing-masing.  Seseorang sibuk menonton televisi, yang lain sibuk menghitung uang mereka.  Ah, semua telah berubah. Mungkin menghilangnya lahan bermain mereka telah membatasi setiap aktivitas yang ada.
Kuberbalik menuju jalan.  Tampak Barat bersama teman-temannya datang dari seberang.  Mengobrak-abrik setiap rumah yang ada.  Mencabut tiang-tiang itu dari akarnya.  Menerbangkannya.  Kemudian menjatuhkannya.  Menghantam semua kawanku.  Hingga mereka tergeletak tak berdaya.
Yah, Barat pastilah juga marah.  Tempat tinggalnya telah dirubah seenaknya.  Hilangnya pepohonan, areal produksi yang kotor, membuatnya muak.  Tak sedikit pun yang dipikirkan manusia untuk kami.
Tak ada lagi keindahan dunia ini.  Keegoisan telah mendorong manusia dalam keterbatasan.  Keterbatasan mengembangkan moral dan rasa cinta pada alam.  Yang akan berakibat buruk pada mereka sendiri.  Ah,, memang roda telah berputar.  Seandainya waktu dapat terulang kembali, tak akan aku tidur terlalu lama.  Akan kugunakan setiap detik yang ada untuk menggenggam erat tangan mereka.  Menggandeng mereka pada arah yang benar.
Apa guna penyesalan ini.  Toh semua telah berlalu.  Dan ini semua juga bukan salahku.  Itulah kehidupan yang ada dewasa kini.  Semua hidup dalam kebahagiaaan yang tak nyata adanya.  Keserakahan manusia dalam mencari uang, yang tak pernah peduli pada alam.
Mungkin inilah katasthrope bagiku, sebagaimana yang diucapkan kawanku lima tahun silam.
“Ah, Lebih baik kupergi saja..”
Kubalikkan tubuhku, mengikuti alunan nada burung gereja yang tersisa.  Terbang ke ufuk barat menuju tempat yang jauh nan indah.  Semakin tinggi kuhempaskan, hingga kota itu pun tampak mengecil.  Semakin kecil dan akhirnya menghilang dari balik bukit yang masih permai ini.

Sang Pujangga,
Imam Andriano Risoyo
Cerpen ini dimuat pada Antologi cerpen Paranoia

Link buku Antologi:

Sudah Bisa untuk Naik ke Bulan



“Sebagaimana kita ketahui bahwa pada saat sekarang ini jumlah karya ilmiah dari Perguruan Tinggi di Indonesia secara total masih rendah jika dibandingkan dengan Malaysia, hanya sekitar sepertujuh. Hal ini menjadi tantangan kita bersama untuk meningkatkannya,” kalimat itulah yang membuka surat edaran DIKTI awal tahun ini berkaitan dengan keharusan membuat makalah yang diterbitkan pada suatu jurnal.
Yang menjadi pertanyaan kita saat ini bukanlah mengapa DIKTI harus membandingkan kita dengan negara lain, melainkan mengapa jumlah karya ilmiah yang inovatif di Indonesia masih sangat kurang.
Dalam kenyataan yang kita temui dewasa kini, jarang sekali mahasiswa melakukan penelitian. Tak dapat dipungkiri bahwa tak semua mahasiswa memiliki minat dalam bidang penelitian, karena minat mereka yang bermacam-macam, baik di bidang penelitian itu sendiri, bidang kewirausahaan atau entrepreneurship, maupun minat lainnya. Misalpun ada, itupun sebagai tugas pokok seorang mahasiswa yaitu ketika melakukan skripsi. 

Begitu pula dengan dosen, dibalik kehidupan seorang dosen yang sangat sibuk dengan berbagai tugas akademiknya, mereka juga memiliki aktivitas lain sehingga waktu yang bisa digunakan untuk penelitian menjadi berkurang. Dosen harus sadar untuk melakukan penelitian. Dalam tridarma perguruan tinggi, salah satunya  terdapat unsure melakukan penelitian. Tanpa melakukan penelitian, ilmu tidak akan berkembang. Ilmu atau informasi yang kita dapatkan harus kita cari kebenaran dan manfaatnya dengan suatu penelitian.
Menurut Olga Afriandani, seorang mahasiswa Jurusan Teknik Elektro dan Teknologi Informasi UGM, kurangnya penghargaan dari banyak pihak terhadap suatu penelitian maupun peneliti itu sendiri menjadi salah satu kendala dalam mengembangkan penelitian yang inovatif di Indonesia.
Berbeda dengan pendapat Bono Setyo, dosen ilmu komunikasi UIN Sunan Kalijaga, menurut beliau  dana untuk penelitian di Indonesia masih sangat minim. Oleh karena itu, banyak peneliti-peneliti Indonesia yang lebih suka mencari dana riset dari luar negeri disamping jumlah dananya yang sangat memadai juga kemudahan2 lainnya seperti administrasi pelaporan penggunaan dana dan lain hal sebagainya.
Terlepas dari alasan-alasan tersebut, jumlah mahasiswa dan dosen yang melakukan penelitian meskipun masih minim, tetapi jumlahnya dari tahun ke tahun semakin meningkat.  Hal ini didukung dengan kegiatan Lomba Karya Tulis Ilmiah, Pekan Kreativitas Mahasiswa, hibah penelitian, maupun perlombaan-perlombaan yang mendukung lainnya. Akan tetapi, apakah penelitian-penelitian yang sudah dilakukan di Indonesia sudah inovatif.

Menurut Pajar Hatma Indra Jaya, dosen Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga,”Penelitian kita sudah bisa digunakan untuk naik ke bulan. Satu orang mahasiswa untuk lulus harus membuat tugas akhir yang rata-rata berwujud penelitian. Jika hasil penelitian itu disusun menjadi tangga konon katanya bisa digunakan untuk naik ke bulan. Ini sindiran untuk dunia pendidikan kita, bahwa banyak penelitian yang tidak menghasilkan apa-apa, kecuali gelar sarjana.”

Untuk penelitian yang dilakukan oleh dosen, mayoritas sudah inovatif. Akan tetapi, sebagian besar penelitian di Indonesia yang dilakukan oleh mahasiswa hanyalah sebagai sarana untuk mendapatkan suatu kelulusan dari perguruan tinggi. Hal ini tak dapat dipungkiri jika penelitian-penelitian tersebut hanyalah seputar ilmu ataupun hasil dan informasi yang telah ada, bukanlah menciptakan suatu produk baru, atau minimal memperbaharui produk yang telah ada.

Akan tetapi, banyak pula inovasi yang telah dilakukan oleh mahasiswa. Dengan adanya berbagai kompetisi robot, aplikasi teknologi, maupun kompetisi inovasi di berbagai bidang ilmu lainnya dapat menambah ketertarikan mahasiswa untuk melakukan inovasi-inovasi yang lebih banyak.

Agar penelitian inovatif  yang dilakukan oleh mahasiswa semakin banyak, perlu pengarahan yang tepat oleh berbagai pihak.  Perlu ditumbuhkan kesadaran sejak dini akan pentingnya inovasi dalam hal pengembangan iptek. Perlu juga pengetahuan bahwa penelitian dapat diaplikasikan dengan aspek yang lain, salah satunya dalam hal entrepreneur.

Menurut Ir.Lukito Edi Nugroho, M.Sc, Ph.D, kepala Jurusan Teknik Elektro dan Teknologi InformasiUGM, untuk menambah minat mahasiswa di bidang penelitian inovatif, pemerintah beserta stakeholder harus mampu memfasilitasi mahasiswa dan memberikan suasana yang kondusif untuk mengembangkan penelitian.

sang pujangga,
Imam Andriano Risoyo
essay ini pernah dimuat dalam rubrik Suara Kampus
Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat tahun 2012

download link:

Kumpulan Puisi SMA, SEMPURNA

Kumpulan Puisi anak SMA, Antologi Puisi "SEMPURNA" karya Siswa-siswi kelas XII-IPA 3 SMA Negeri 1 Depok Jogja angkatan 2008/2009:

1. Kuil Cinta karya Agatha Sarmade
2. Untitled karya Angga Jati Loryan
3. Angan karya Annisa Desi Rakhmawati
4. Ambisiku karya Ardian Adam Muladi
5. Sempurna karya Dara Hastarin
6. Damai karya Dyah ayu Paramita
7. Kerinduan karya Erista Ayu Wulandari
8. Sunyi karya Ezar Elian
9. Hampa oleh Cinta karya Faisal Adhitya Dirgantara
10. Kesempurnaan karya Fajar Subekti
11. Bintang Darah karya sang pujangga, Imam Andriano Risoyo
12. Untitled karya Intan Reni Wulandari
13. Penebusan karya Jeacqlien Mila Hukom
14. Kesempurnaan karya Nadzar Kamal Mujtahiq
15. Dirimu karya Neo Fibrasi
16. Untitled karya Nisa Elida Ayunani
17. Melodi Malam karya Nur Amalina Ratnaningsih
18. Kisahku karya Nurul Hasanah
19. Kenangan karya Palupi Ratnaningsih
20. Ayah karya Sari Dewi Utami
21. Untuk-Mu karya Septiana Hikmawati
22. Sempurna karya Sidiq Setya Nugraha
23. Tuhanku karya Sofie Putri Kurniawati
24. Kasih yang Sempurna karya Tegangatin
25. Biarkan Mereka Indah karya Veranita Yulia Manuwari Suratno
26. Sempurna karya Walton Kristel


Download link:
Antologi Puisi SEMPURNA 

Sobat

takkan kuasa segala empatiku,
terlalu busuk tuk disimpan...
takkan kuasa kau hadapi itu,
di tengah gemuruh keramain kota..

sobat, tak faham otakku tuk jauhimu,
terarah kau pada saranku, gar nasib bermujur padamu Lah...

tak habiz bayang esok mendatang, entah kemana takdir berjalan pisahkan kita,
tapi tak usahlah berkecewa, Lah banyak jalan menuju Roma..

mang maniz perjalanan pekan lalu, bak keluarga saling berisi,
bahkan ku tak ingin pergi darimu, terlalu indah tuk dimengerti..

nan pasti gue tetap sobat Lo!!!

sang pujangga,
Imam Andrian Risoyo

Sifat Kolegatif Larutan

*Pengertian
adalah sifat yang bergantung pada jumlah partikel zat terlarut dan tidak bergantung pada ukuran jenis atau massa molekul zat terlarut.

untuk larutan elektrolit dan nonelektrolit dengan konsentrasi yang sama mempunyai jumlah partikel yang berbeda

#elektrolit:
A. penurunan tekanan uap (DP)
p = po . XB
DP = po . XA
DP = po - p

p = tekanan uap jenuh larutan
po = tekanan uap jenuh pelarut murni
XB = fraksi mol pelarut
XA = fraksi mol zat terlarut

B. penurunan titik beku (DTf)
DTf = m . Kf
m = massa/Mr . 1000/p
Tf = Tfp - DTf

DTf = penurunan titik beku
m = molalitas larutan
Tf = titik beku larutan
Tfp = titik beku pelarut (air
Kf = tetapan penurunan titik beku molal
massa = massa zat terlarut
Mr = massa molekul relatif zat terlarut
p = massa pelarut

C. kenaikan titik didih (DTb)
DTb = Tb - Tbp
Dtb = m . Kb 

sang pujangga,
Imam Andriano Risoyo

Redaksi Jeda Magelang

waktu aku masih di SMA 1 magelang, aku ditrima jadi pengurus buletin jeda magelang angkatan pertama.

aku menjabat "pemimpin redaksi loh"

udah banyak buletin kita terbitin, g tau kepastian jumlahnya, pokoknya sampe gak bisa diitung pake dengkul.

kita juga udah berhasil bikin 2 buah film dokumenter dengan judul "jalan tika" n "pilang". pokoknya selama produksi, kita, 11 filmaker remaja, tinggal 1 atap. pernah tinggal d rumahku, pernah juga seharian di rumah vika, saudaraku yang juga jabat jadi pengurus jeda.

jalan tika nyeritain tentang lika-liku kehidupan tika sebagai seorang waria. selama proses pembuatan film itu, banyak halangan yang menghadang kita. kejadian dimulai saat kita nyari rumah mbak tika, sampe2 gak konsen nyetir motor. alhasil, lampu merah pun aku trobos, so kena tilang deh. tapi gak cuma kena tilang, polisi2 itu mempermainkan kita. masak, cuma buat ngambil sim n bayar uang tilang aja kita harus bolak-balik keliling magelang berulang-ulang. kata polisi yang satu SIMku dbawa polisi satunya di pos jalan mana gitu, n sebaliknya. akhirnya kita gak rela, kita bersepuluh maju bareng2 ke kantor polisi. uang buat nebus SIM kita tuker recehan. tapi yang boleh masuk ruang interogasi cuma aku doank. jadi kayak narapidana deh, pokoknya seru bgt.

selain itu, sewaktu kita melakukan shooting malem2 di tempat mangkal mbak tika, kita dikunci mbak tika di garasi sebuah perusahaan otomotif mobil cz mb tika akan melakukan aksinya (biar pelanggan gak curiga ma kita, jadi kita cuma ambil shoot dari agak jauh).
setelah tawar-menawar, mbak tika pergi dengan pelanggannya. dan di luar garasi ada waria2 lain yang juga mangkal, tapi mereka kurang bersahabat seperti mbak tika. saat itu, salah satu dari kita, sakit maagnya kambuh, kami bingung bgt, dcampur rasa takut. apalagi kita dikunci mbak tika dari luar.
untungnya, beberapa saat kemudian mbak tika datang.

kalo cerita pembuatan film pilang gak kalah seru. kita ambil waktu shooting di sebuah desa terpencil di magelang saat malam jumat kliwon kira2 jam 10. padahal kita cuma anak 8, cz yang 3 gak bisa dateng. dengan modal nekat, kita berangkat ke desa ngencek, daerah tegalrejo, magelang. kita harus nglewati sawah, pepohonan, n jembatan. meski naek motor, tetep aja jalannya nyeremin cz jauh dari desa lain.

oh iya, aku belum ngenalin siapa peran utama di balik film kami. mbah pilang adalah seorang dukun pijat yang mampu mengobati berbagai penyakit termasuk penyakit 'mistik'. ia mengaku bahwa ia mendapat ilmu itu sebagai warisan leluhurnya. ia juga harus melakukan tirakat di makam nyai kacek dan kyai kacek (cikal bakal desa ngencek) untuk meminta bantuan, di setiap malam jumat jam 12 tepat. meski banyak pendapat, baik yang mendukung maupun yang menolak, ia tetap melakukan kebiasaan itu.

saya teruskan cerita sebelumnya,
kita berangkat ke rumah mbah pilang malam2 tanpa sepengetahuan mbah pilang terlebih dahulu. hal ini dikarenakan saat kami meminta ijin untuk datang, ia pernah menolak dengan alasan kiai n nyai kacek tidak berkenan jika kami mengganggu ritualnya untuk berkomunikasi dengan mereka. dan kami menganggap hal itu sebagai ketidak masuk akalan.
ketika kami tiba di rumah mbah pilang, ia kaget sekali, dan ia menyarankan kami pulang. namun, kami mencoba meminta mbah pilang untuk wawancara sebentar, agar kami tidak kecewa. saat kami melakukan wawancara, sebagian anak diam-diam pergi ke makam untuk mengambil gambar makam leluhur desa ngencek. so, di rumah itu tinggal aku, mbah pilang, si hasta ketua umum (ingat, aku cuma pemimpin redaksi, masih di bawah ketua umum), n 2 anak cewek lainnya. saat melakukan wawancara, kejanggalan terjadi, mbah pilang mwenjawab pertanyaan kami dengan sangat hati2 n lirih. padahal selama kami bicara dengan dia, belum pernah dengan ekspresi wajah seperti itu. tak lama kemudian, hasta merasa dijawil seseorang, padahl dibelakngnya tidak ada apa2.

beberapa menit kemudian, rombongan yang dari makam, datng berlarian. mereka bilang, ada makhluk tinggi besar di depan pintu gerbang makam. spontan kita semua bener2 takut. untungnya setiap malam jumat di desa ramai orang, cz pada baru pulang yasinan di rumah penduduk. setelah menelpon manager kami untuk minta jemput, kami mencoba bercengkrama dengan penduduk untuk menghilangkan rasa takut.

entah, apa yang kami rasakan. antara percaya dan tidak percaya. percaya akan adanya makhluk gaib, dan tidak percaya bahwa apakah kejadian ini hanya halusinasi dari rasa takut kami. yang pasti kami berpegang teguh pada keimanan kami... 

Alhamdulillah perjuangan kami membuahkan hasil, film-film dokumenter tersebut akhirnya sudah go Internasional dan sudah beberapa kali ditayangkan di beberapa negara Asia.

sang pujangga,
Imam Andriano Risoyo

Sahabat

Resah,
Derai-derai rasa menuai cinta
Terukir dalam benak sebuah alunan lagu
Setitik memori tlah tersisa dalam mimpi
Dalam ikatan janji engkaulah sahabat sejati

Maafkan ku tlah pergi
Menjauhi segala curahan hati
Tapi ingatlah segala memori
Bahwa cinta kan selalu bersemi

sang pujangga,
Imam Andriano Risoyo

Tanah, Pedosfer

Tanah adalah akumulasi tubuh-tubuh alam yang bebasdan menduduki sebagian besar lapisan atas permukaan bumi. Tanah berasal dari tumbuhan atau zat-zat organic yang mengalami pelapukan. Factor terjadinya pelapukan:
1. Pemanasan matahari pada siang hari dan pendinginan pada malam hari.
2. Batuan yang sudah retak, pelapukan dipercepat oleh air.
3. akar tumbuh-tumbuhan dapat menerobos dan memecah batuan sehingga hancur.
4. Binatang kecil yang membuat lubang dan mengeluarkan zat-zat yang dapat menghancurkan batuan.
5. Pemadatan dan tekanan pada sisa-sisa zat organic akan mempercepat terbentuknya tanaman.

Jenis-jenis tanah:
1. Tanah podzolik merah kuning
Ialah tanah yang terjadi pada pelapukan batuan yang mengandung kwarsa pada iklim basah dengan curah hujan 2500-3500 mm/ tahun.
2. Tanah organosol
Ialah tanah yang terjadi dari bahan induk organic seperti gambut dan rumput rawa pada iklim basah dengan curah hujan >2500 mm/ tahun.
3. Tanah alluvial
Ialah tanah yang berasal dari endapan Lumpur yang dibawa melalui sungai.
4. Tanah kapur
Ialah tanah yang berasal dari batuan kapur yang umumnya terdapat di daerah pegunungan kapur berumur tua.
5. Tanah vulkanis
Ialah tanah yang berasal dari pelapukan batuan vulkanis, baik dari lava atau batu yang telah membeku (effusive) maupun dari abu vulkanis yang telah membeku (efflata).
6. Tanah pasir
Ialah tanah yang berasl dari batu pasir yang telah melapuk
7. Tanah humus/ bunga tanah
Ialah tanah yang terjadi dari tumbuhan yang telah membusuk.
8. Tanah laterit
Ialah tanah yang banyak mengandung zat besi dan alumunium.
9. Tanah gambut
Ialah tanah yang terjadi dari pelapukan tak sempurna mengandung batu bara.

Fungsi tanah:
1. Untuk tempat tinggal dan tempat melakukan kegiatan.
2. sebagai tempat tumbuhnya vegetasi yang sangat berguna bagi kepentingan hidup manusia.
3. Mengandung barang tambang atau bahan galian yang sangat berguna bagi manusia.
4. Tempat berkembangnya tumbuhan yang penting bagi hewan dan manusia.

Apabila erosi tanah, lapisan atas tanah akan rusak dan lingkungan alam lainnya ikut rusak. Factor terjadinya erosi:
1. Ditebangnya hutan secara liar sehingga tanah gundul.
2. Tidak adanya penyangga air pada tanah miring.
3. Tanah tidak dibuat tanggul pasangan sebagai penahan erosi.
4. Pada tanah berlumpur digunakan untuk penggembalaan liar.

Factor pembeda tanah:
a. Tekstur tanah
b. Permeabilitas tanah
c. Ketebalan atau solum tanah
d. Kemiringan lereng
e. Tingkat erosi
f. Penyaluran air

Asal warna tanah:
a. Kuning, dari mineral limonit.
b. Cokelat, dari bahan organis asam yang lapuk sebagian.
c. Putih, dari mineral-mineral silica-kuarsa, kapur, kaolin, bauksit, alumunium dan silikat, gypsum, nitrat, garam-garam yang telah larut serta koloida-koloida organis tertentu.
d. Hitam, dari bahan-bahan organis yang telah terurai dengan hebat.
e. Merah, dari mineral hematite atau turgit.
f. Hijau, dari oksida ferrous.
g. Biru, dari mineral lilianit.

Ciri-ciri tanah subur ialah tekstur dan struktur tanahnya baik, yaitu butir-butir tanahnya sedang, banyak mengandung garam yang berguna untuk tanaman tumbuhan, dan banyak mengandung air untuk melarutkan garam. Factor-faktor yang mempengaruhi tekstur tanah adalah komposisi mineral dan batuan, sifat dan cepatnya proses pembentukan tanah local, serta umur relative tanah.
Permeabilitas tanah ialah cepat atau lambatnya air meresap ke dalam tanah melalui pori-pori tanah baik secara vertical maupun horizontal yang ditentukan oleh tekstur tanah. Jenis tanah menurut kesuburannya:
a. Tanah muda
Unsur hara yang terkandung di dalamnya belum banyak sehingga belum subur.
b. Tanah dewasa
Unsur hara yang terkandung di dalamnya sangat banyak sehingga sangat subur.
c. Tanah tua
Unsur hara yang terkandung di dalamnya sudah berkurang.
d. Tanah sangat tua
Unsur hara yang terkandung di dalamnya sangat sedikit, bahkan hampir habis.

Tanah memerlukan unsur K, P, N, C, H, O, Na, Ca, S, Mg, Fe, Zn, B, Cu, DAN Mn untuk tumbuh dan berkembang. Apabila salah satu unsur tersebut tidak ada, maka tanaman yang ada tidak sempurna atau tidak bias tumbuh. Untuk itu dapat digunakan pupuk sebagai penggantinya. Pupuk ada 2 macam:
a. Pupuk alam (pupuk organic)
Yaitu pupuk yang dihasilkan dari sisa-sia tanaman, hewan, dan manusia seperti pupuk hijau, pupuk kandang, dan pupuk kompos.
b. Pupuk buatan (pupuk anorganik)
Yaitu pupuk yang dibuat dalam pabrik seperti pupuk tunggal dan pupuk majemuk.

Kesuburan tanah dapat dijaga dengan:
1. Pemupukan, diusahakan dengan pupuk alami.
2. Sistem irigasi yang baik.
3. Hutan cadangan pada lereng pegunungan.
4. Menanami lereng yang gundul.
5. Mengadakan pertanian di daerah miring secara benar.

Kemiringan lereng adalah kemiringan suatu lahan terhadap bidang horizontal. Semakin miring suatu tempat, maka akan semakin besar kemungkinan erosi atau longsornya. Untuk menjaga kestabilan pertanian di daerah miring diperlukan:
a. Terassering, yaitu penanaman tanaman dengan system berteras-teras.
b. Contour farming, yaitu menanami lahan menurut garis kontur.
c. Pembuatan tanggul pasangan untuk menahan garis erosi.
d. Contour plowing, yaitu bercocok tanam dengan cara membagi-bagi bidang tanah itu dalam bentuk sempit dan memanjang dengan mengikuti garis kntur.
e. Crop rolation, yaitu usaha pergantian jenis tanaman yang ditanm.
f. Reboisasi, menanami kembali hutan yang gundul.

Lahan kritis adalah lahan yang tidak produktif. Hal tersebut disebabkan oleh:
a. Kekeringan.
b. Genangan air yang terus-menerus.
c. Erosi tanah dan masswasting.
d. Pengolahan lahan yang kurang memperhatikan aspek-aspek kelestarian lingkungan.
e. Masuknya material yang dapat bertahan lama ke lahan pertanian.
f. Pembekuan air.
g. Pencemaran.

Upaya penanggulangan lahan kritis:
a. Lahan tanah digunakan seoptimal mungkin.
b. Erosi tanah perlu dicegah melalui pembuatan teras-teras pada lereng bukit.
c. Usaha reboisasi.
d. Perlu reklamasi lahan bekas pertambangan.
e. Perlu adanya usaha ke dalam program kali bersih (prokasih).
f. Pengelolaan terpadu di wilayah lautan dan daerah aliran sungai.
g. Pola pergiliran tanaman.
h. Perlu tindakan tegas bagi siapa saja yang merusak lahan yang mengarah pada lahan kritis.
i. Menghilangkan unsur-unsur yang mengganggu kesuburan lahan pertanian.
j. Pemupukan dengan pupuk organic.
k. Penggemburan tanah.
l. Menurunkan zat tercemar yang ada pada lahan pertanian dengan tumbuhan eceng gondok.

Lahan potensial adalah lahan yang belum dimanfaatkan atau belum diolah dan jika diolah akan mempunyai nilai ekonomi yang besar karena mempunyai nilai kesuburan yang tinggi dan mempunyai daya dukung terhadap kebutuhan manusia. Upaya-upaya peningkatan manfaat lahan potensial:
a. Merencanakan penggunaan yang digunakan manusia.
b. Menciptakan keserasian dan keseimbangan fungsi dan idensitas penggunaan lahan dalam wilayah tertentu.
c. Merencanakan penggunaan lahan kota agar jangan sampai menimbulkan dampak pencemaran.
d. Menggunakan lahan seoptimal mungkin bagi kepentingan manusia.
e. Memisahkan penggunaan lahn untuk pemukiman, industri, pertanian, perkantoran, dan usaha lainnya.
f. Pembuatan peraturan perundang-undangan yang meliputi pengalihan hak atas tanah untuk kepentingan umum dan peraturan perpajakan.
g. Melakukan pengkajian terhadap kebijaksanaan tata ruang, perijinan, dan pajak dalam kaitannya dengan konversi penggunaan lahan.
h. Di daerah pegunungan/ perbukitan perlu perlu diperhatikan teknologi pengolahan tanah, penghijauan, reboisasi, dan pembuatan sengkedan.
i. Perlu usaha pemukiman penduduk dan pengendalian peladang berpindah.
j. Mengelola dengan baik daerah aliran sungai, derah pesisir, dan daerah sekitar lautan.

sang pujangga,
Imam Andriano Risoyo



Download link:

Di Balik Restu

pemain SMAN 1 Depok jogja
1. imam andrian risoyo
2. dyah ayu paramita
3. ezar elian
4. intan reni wulandari
5. angga jati loryan
6. veranita yulia
7. agatha sarmade
8. tegangatin
9. erista ayu

penulis skenario: imam andrian risoyo
dibantu: dyah ayu, veranita yulia, dan intan reni

Semenjak suaminya meninggal, Bu Made, harus merawat Tiara, anaknya, seorang diri. Semenjak saat itu ia mulai membatasi aktivitas Tiara sebagai murid SMA kelas 1.
Ibu : (menatap foto pak Made, menangis kemudian membaca puisi yang sejak tadi terletak di atas meja).
Ketika jiwa tinggalkan singgasana
Hati ini menunggu di nirwana
Penantian jemu yang lama
Tanpa senyum tuan putri

Sebuah ikatan ikrar cinta
Tak hapuskan memori
Meski tinggal raga
Rasa itu tetap mengendap di kalbu
Tak sekalipun mengelupas.
Suatu hari, Farel mengajak teman-temannya untuk merayakan ulang tahunnya di hutan cemara Kaliurang. Tak ketinggalan pula Tiara diajaknya. Akan tetapi Tiara menolaknya dengan alasan ibunya sendirian berada di rumah. Namun, Farel memaksanya hingga Tiara tak bisa mengelak.

Scene 1 (setting: rumah)
Sore harinya Tiara meminta izin kepada ibunya untuk pergi bersama teman-temannya di esok hari.
Tiara : “Mi, besok temanku ulang tahun…” (berbicara pelan sambil membaca majalah).
Ibu : (diam, acuh, mengaduk teh).
Tiara : “Rencananya akan dirayakan besok di Kaliurang…”
Ibu : (menoleh ke arah Tiara, masih diam).
Tiara : “Bo..bolehkan, Mi?” (memohon dengan perasaan takut).
Ibu : “jangan aneh-aneh!” (marah).
Tiara : (menunduk, diam).
Ibu : “Sudah, tinggal saja di rumah!!.” (berbicara sambil berbalik pergi).
Tiara : “Tapi Mi, Tiara sudah jan…” (mengejar ibunya sambil memohon).
Ibu : “Tidak ada tapi-tapian!!” (naik pitam).
Tiara : “Tolong Mi, kali ini saja.” (memohon).
Ibu : (acuh sambil berjalan menuju teras).

Scene 2 (setting: sekolah)
Keesokan harinya sepulang sekolah, Tiara meminta maaf kepada Farel karena tidak bisa pergi bersama Alexa, Alya, Aldo, Ratih, dan dia.
Tiara : “Maaf Rel, nanti sore aku tidak bisa ikut.”
Farel : “Ibumu lagi? Ayolah!” (memaksa). “Apa aku perlu membuat proposal agar ibumu mengizinkan?!”
Aldo : “Iya nih, jarang kan kita bisa pergi bersama.”
Ratih : “Ayolah Tir, temani kami!”
Alexa : “Huh, anak mami gitu loh!” (mengejek dengan ketus).
Ratih : “Diamlah kamu Alexa!” (marah).
Aldo : “Iya, kasihan kan Tiara!”
Tiara : (merunduk kemudian kembali) “Baik deh aku coba bujuk mami lagi.” (berbalik pergi untuk pulang).
Alya : “Kami tunggu ya!” (berteriak).

Scene 3 (setting: rumah)
Sesampainya di rumah, Tiara membujuk ibunya kembali agar diperbolehkan bergabung dengan teman-temannya. Ia menghampiri ibunya yang sedang memasak.
Tiara : “Izinkan Tiara berangkat Mi…..”
Ibu : (diam sejenak) “Perlu kau ketahui, banyak penculikan terjadi akhir ini!” (suara datar)
Tiara : “Tiara kan sudah besar, apalagi banyak teman di sana.”
Ibu : “Sama saja.” (jengkel).
Tiara : “Ayolah, sampai kapan Mami akan menahanku terus?” (mulai memaksa).
Ibu : (diam tak bisa menjawab).
Tiara : “Kalau saja papi…”
Ibu : (meneteskan air mata) “Pergilah! Jaga dirimu baik-baik!” (menuju kamar, meninggalkan Tiara sendirian).
Tiara : (bergegas mengambil peralatan lalu berhenti di depan kamar ibunya. Kemudian berjalan perlahan mendekati ibunya yang duduk termenung di atas ranjang) “Tiara pamit dulu ,Mi.” (bersuara pelan sambil mencium tangan ibunya lalu pergi).

Scene 4 (setting: rumah Farel)
Di rumah Farel, Ratih, sahabat Tiara, merasa aneh dengan tingkah sahabatnya tersebut.
Ratih : “Aneh sekali dirimu ini, ada apa? Katakanlah!”
Tiara : “Aku merasa bersalah karena harus memaksa mami.”
Ratih : “Salah gimana?”
Tiara : “Ya rasanya kita diikuti rasa dosa.”
Ratih : “Sudahlah, bukankah ibumu telah memberi izin? Udah jalani saja!”
Tiara : (tersenyum) “Benar banget, makasih ya!”
Ratih : “Itulah gunanya teman.”
Alya : “Semua sudah siap ayo kita berangkat!” (datang menghampiri Ratih dan Tiara).
Ratih : “Ayo!”
Farel : “Berangkat!” (berteriak kemudian semua berangkat)
Alexa : “Woi, tunggu!” (berteriak karena ketinggalan, tetapi semua tidak ada yang dengar, kemudian mengambil handphone di sakunya dan menelepon seseorang) “Al, gimana sih, aku jangan ditinggal dong! Kan aku belum begitu tahu Jogja!”
Alya : “Teman-teman tunggu, Alexa ketinggalan!” (berteriak kemudian semua anak berhenti mengendarai sepeda motor).
Ratih : “Apa? Alexa ketinggalan?”
Alya : “Iya.”
Farel : “Masak anak segede itu ketinggalan sih?”
Aldo : “Bukan anak gede, melainkan berdelapan! Ha….” (semua anak ikut tertawa).
Alya : (mengambil handphone dan menelepon Alexa) “Lex, kita tunggu di depan sekolah ya!”

Scene 5 (setting: hutan cemara)
Sesampainya di tempat tujuan, mereka segera mendirikan tenda.
Alexa : “Siapa yang tadi punya ide meninggalkanku?”
Alya : “Bukan aku, tapi dia!” (menunjuk Ratih).
Ratih : “Bukan aku, tapi dia!” (menunjuk Aldo).
Aldo : “Bukan, bukan aku! Tapi dia!” (menunjuk Farel).
Alexa : “Kalian kok malah tunjuk-tunjukkan. Sebenarnya siapa?” (marah).
Alya, Ratih, Aldo,Tiara : “Farel.”
Farel : “Lo, kok aku? Sembarangan kalian!”
Alexa : “Sudah, tidak usah banyak Bicara! Awas ya kamu!”
Semua : “Mengumpat tertawa.”
Dan setelah itu mereka berpisah untuk mencari kayu bakar dan air.
Farel : “Baiklah, mari kita bagi tugas untuk mengumpulkan kayu bakar dan mengambil air. Aldo, kau dan Alexa ikut aku mencari kayu bakar, sisanya tolong ambil air di sungai!”
Alexa : “Ih, malas. Masak aku sama Farel!”
Alya : “Udah, terima aja.”
Aldo : “Tapi, masak kita meninggalkan anak-anak perempuan ini sendirian, Rel!” (memprotes).
Farel : “Biarlah, sungai kan tak begitu jauh.”
Aldo : “Walaupun begitu mereka ini perempuan!” (marah).
Alya : “Udah gak apa-apa kita berani kok…”
Alexa : “Beneran nih? Gak nyesel?” (mengejek)
Alya : “Iya, iya! Lagian gak ada apa-apa kok!”
Alexa : “Nanti, kalo ada pocong gimana? Hih… atut….”
Alya : “Mana mungkin ada setan siang-siang begini.”
Aldo : “Bisa aja, kalo setannya buta gimana?”
Alya : “Ih, maksa!”
Ratih : “Tenang saja, kan ada aku!”
Akhirnya Alya, Tiara, dan Ratih berpisah dengan yang lain untuk melakukan tugas masing-masing. Mereka bertiga berjalan menuju sungai melalui jalan yang secara asal mereka lalui.
Ratih : “Sudah jauh nih kita berjalan, mana sih sungainya?” (sambil mengatur nafas karena kecapekan)
Tiara : “Iya nih, capek banget lagi!” (mengusap keringat di wajah).
Alya : “Aduh, kebelet pipis lagi! Bentar ya!” (berjalan menjauh menuju semak-semak).
Sementara itu ketika Alya sedang Buang air kecil, Tiara dan Ratih di dekati dua orang. Yang satu laki berperawakan besar, sedangkan yang satu lagi perempuan.
Nesya : “Burung gagak kena burik, mau tidak kalian kami culik?” (pantun).
Tiara : “Ih, mbaknya aneh ya, mau menculik pakai pantun segala!”
Ramon : “Bodoh, bukan begitu Nesya!” (kecewa) “Begini, tutup mulut kalian atau kami tembakkan pistol ini!” (menggertak, mengarahkan pistol ke jidat Ratih).
Ratih : “Huh, gak takut!! Masak mau nyulik pake pistol mainan! Itu sih, kayak punya adikku.” (tertawa, tangan dipegang Ramon).
Ramon : “Hah? Kok bisa?! Gimana sih kamu ngambilnya!! Bodoh!” (memarahi Nesya).
Nesya : “Habis yang asli aku lupa naruhnya, jadi aku ambil aja itu yang ada di atas meja.”
Ratih : “Lari….!!” (melarikan diri bersama Tiara).
Nesya : “Lo, kok malah pada lari!” (sedih).
Ramon : “Ya dikejar Nesya…” (menangis karena anak buahnya bodoh).
Nesya : (berlari mengejar diikuti Ramon) “Aduh, pagi-pagi udah disuruh lari-lari!” (mengeluh).
Tiara : “Aduh!!” (terjatuh).
Ratih : “Kamu gak apa-apa?”
Ramon : “Ayo tangkap mereka!! Wu…wu…wu..” (semangat gaya Indian).
Nesya : “Wu….wu…wuu…” (ikut-ikutan semangat hingga Tiara dan Ratih tertangkap).
Pada saat itu Alya telah kembali. Akan tetapi, ia melihat kejadian tersebut dari kejauhan sehingga dengan segera ia bersembunyi di balik sebuah pohon.
Ramon : “Nesya, tutup mulut mereka!” (sambil menahan tangan Ratih).
Nesya : “Baik.” (Menutup mulut Tiara dan Ratih dengan kedua tangannya).
Ramon : “Bukan begitu Nesya, tutup mulut mereka pakai plester!” (sangat sedih).
Nesya : “O begitu, bilang dong dari tadi!” (menutup mulut Tiara dan Ratih menggunakan plester).
Tiara : (ketakutan hingga pingsan).
Ratih : (berusaha melepaskan diri untuk menolong Tiara, tetapi tak berhasil) “Uhmm… Ummmm……Umm!!”
Nesya : “Ha…ha….ha… dasar bodoh!! Pakai acara pingsan segala.” (tertawa).
Ramon : “Ayo kita pergi dari sini!! Papah anak bodoh itu Nesya!” (berjalan pergi sambil menyeret Ratih).
Alya sangat ketakutan, ia berlari menjauh dari arah perginya penculik-penculik tersebut. Meski tersandung-sandung akar pohon, Alya berusaha untuk mencari Farel dan yang lainnya.
Alya : “Tolong……Tolong!!!” (berteriak sambil lari tergesa-gesa). “Aldo, Alexa, Farel… dimana kalian?”

Scene 6 (setting: hutan cemara)
Sementara itu, Aldo, Alexa, dan Farel telah kembali ke tenda.
Alexa : “Lama sekali yang lain!” (bosan)
Farel : “Iya nih, ada apa ya?” (cemas)
Aldo : “Ayo, cepat kita susul mereka!” (berdiri dari jongkok, lalu pergi mencari Tiara, Ratih, dan Alya).
Alexa : “Dasar lamban, ayo apa lagi? Cepat bantu Farel!”
Farel : (bengong) “Kamu?”
Alexa : “Ya kita berdua, bodoh!” (marah)
Akan tetapi, karena terlalu lama, mereka tak dapat mengejar Aldo. Sehingga mereka harus berpisah pula dengannya.

Scene 7 (setting: hutan cemara)
Telah jauh sekali Aldo mencari ketiga temannya.
Aldo : “Tiara….. dimana kalian?” (berteriak sambil berjalan cepat hingga jatuh tersandung batu) “Aduh, batu sialan!” (menggerutu) “Ratih……Alya……….. dimana kalian?”
Sayup-sayup ia mendengar teriakan Alya dan ia berusaha berlari ke arah suara tersebut. Namun, tiba-tiba kaki Aldo kram dikarenakan saat dia jatuh.
Aldo : “Auw, heh..!!!” (menggerutu)

Scene 8 (setting: hutan cemara)
Pada saat itu, Alexa dan Farel mendengar teriakan Alya. Lalu mereka berlari mendekati arah suara tersebut hingga akhirnya mereka bertemu dengan Alya.
Alya : “To…tolong…Tiara….Tiara dan Ratih… heh….heh…” (terengah-engah kecapekan)
Alexa : “ Mereka kenapa?” (cemas)
Alya : “Me…mereka….” (terengah-engah)
Farel : “Tenang, tenangkan dirimu dulu!”
Alya : “Mereka diculik!” (gaya ikan Dancow).
Farel dan Alexa : “Apa, mereka diculik?” (kaget)
Alya : “I,iya… maafkan aku gak bisa jaga mereka…” (menangis)
Alexa : (marah) “Ini salahmu!! Mengapa kau biarkan gadis-gadis ini sendirian?” (menunjuk Farel) “Dasar pengecut!!”
Farel : “Jangan seutuhnya salahkan aku!!! Ini berada di luar dugaan…” (membela diri)
Alexa : “Masa bodoh!!!” (acuh)
Alya : “Sudah,sudah!! Sebaiknya kita beri tahukan hal ini pada Bu Made.”
Farel : “Jangan, jangan bikin Bu Made cemas!”
Alexa : “Dasar bodoh! Emang kamu bisa melakukan apa?”
Alya : “Kalau begitu, sebaiknya kita cari Aldo terlebih dahulu karena ia lebih akrab dengan Bu Made.”
Akhirnya mereka bertiga bergegas mencari Aldo.
Alexa : “Aldo….. dimana kamu?” (berteriak)
Farel : “Aldo….!!” (teriak)
Aldo : “Aku di sini!!” (berteriak dari kejauhan).
Dengan segera mereka bertiga menghampiri Aldo.

Scene 9 (setting: rumah penculik)
Sementara itu, kedua penculik itu telah membawa Tiara dan Ratih ke sebuah rumah yang berada di dekat hutan itu.
Nesya : “Hey, bangun bodoh!” (membangunkan Tiara hingga kaget)
Tiara : “Dimana ini?” (bingung)
Nesya : “Tak perlu kau tahu! Ha…ha…”
Ratih : “Siapa kalian? Apa mau kalian?” (ketakutan)
Ramon : “Ha….Ha…Ha….aku Ramon, tak ada yang dapat mengalahkanku!” (tertawa)
Nesya : “Ha….Ha…Ha….begitu pula denganku! Ha…ha….ha…..!” (tertawa)
Ketika itu datang seekor kucing. Ternyata Nesya sangat ketakutan dan berlari menghindar. Hal tersebut membuat Tiara dan Ratih tersenyum geli.
Ramon : “Jaga mereka Nesya! Lebih baik aku meminta tebusan pada ibunya. Ha…ha…!!” (menunjuk Tiara).
Nesya : “Tepat sekali kau Ramon. Ha…ha…!”
Kemudian Ramon pergi untuk menelopon Bu Made.
Ibu : “Dengan Ibu Made di sini.” (mengangkat telapon)
Ramon : “ha…ha…ha… bagaimana kabarmu Made?” (memegang gagang telepon)
Ibu : “Siapa Anda?” (penasaran)
Ramon : “Sudahkah kau lupa padaku Made?”
Ibu : “Jawablah siapa Anda?” (suara mengeras)
Ramon : “Ramon. Ingatkah kau?”
Ibu : “Ramon yang…”
Ramon : “Ya, aku Ramon saingan kerja suamimu dulu. Ha..ha..ha….. sekarang saatnya pembalasanku Made!”
Ibu : “Maksudmu?” (cemas)
Ramon : “Sekarang putrimu ada di tanganku. Sediakanlah uang 500 juta bawa ke jalan Ikhlas besok jam 3 sore. Jangan coba-coba bawa polisi, kalau tidak nyawa anakmu akan terancam. Ha…ha….!!”
Ibu : “Tunggu….” (berusaha memutus pembicaraan, tetapi hubungan telepon telah putus). “Ya Tuhan!!” (mencoba menelpon seseorang.) “Halo.”
Farel : “Halo, ada apa tante?” (bingung)
Ibu : “Gak usah berlagak kamu!! Sekarang di mana Tiara?” (marah)
Farel : “Ti…Ti…Tiara ada kok tante.” (berusaha tenang)
Ibu : “Dimana dia sekarang?” (membentak)
Farel : “Ma… maaf tante, Tiara diculik.” (tiba-tiba sambungan telepon putus).
Scene 10 (setting: rumah penculik)
Ketika ditinggal pergi Ramon, Nesya menjaga Tiara dan Ratih seorang diri.
Ratih : “Ayo lakukan rencana kita.” (berbisik ke telinga Tiara)
Tiara : (menatap ke arah Nesya, seakan penglihatannya menuju ke arah belakang tubuh Nesya) “Pussy..” (seakan memanggil seekor kucing).
Nesya : “Waa…kucing..!!!!” (lari terbirit-birit)
Tiara : “Ketipu deh!!” (bersama Ratih melarikan diri)
Semenit kemudian Ramon datang dan terkejut begitu melihat ruangan tersebut hanya berisi Nesya yang menangis di sudut ruangan.
Ramon : “Di mana mereka?” (berang)
Nesya : “Me..mereka melarikan diri …. Uwaa!!” (menangis)
Ramon : “Dasar bodoh!! Gimana bisa terjadi?” (naik pitam)
Nesya : “Mereka tau kalo aku phobia kucing….hiks…”
Ramon : “Bodoh, kejar dong!” (lari berbalik dengan tergesa-gesa hingga tidak sadar bahwa pintunya ditutup sehingga tubuhnya terbentur pintu tersebut)
Nesya : (tertawa geli) “Ayo dong kejar!” (melompati Ramon yang jatuh, lalu berlari ke luar ruangan).

Scene 11 (setting: hutan cemara)
Sementara itu , di hutan cemara….
Farel : “Apa yang terjadi Aldo?” (cemas)
Aldo : “Oh, aku Cuma tergelincir kok! Ini juga udah baikan!” ( duduk, meringis, kemudian menoleh ke arah Alya) “Lo Alya, di mana Ratih dan Tiara?”
Alya : “Maaf Al, mereka diculik.” (sedih)
Aldo : “Apa?” (kaget)
Alexa : “Semua ini salahmu Rel!” (meremas kerah baju Farel dan berusaha memukulnya, tetapi tertahan oleh tangan Aldo)
Aldo : “Sudah, jangan sesali yang udah terjadi!”
Farel : “Tapi tetap aja dia penyebabnya!” (marah)
Alya : “Sudaa…ahh!!!” (berteriak marah)
Aldo : “Sekarang yang perlu kita lakukan adalah mencari tahu ke mana penculik-penculik itu membawa Ratih dan Tiara!”
Alexa : “Di mana mereka diculik, Alya?” (masih marah)
Alya : “Ayo ikut aku!” (berlari ke arah tempat Tiara dan Ratih diculik. Aldo, Alexa, dan Farel mengikuti dari belakang)

Scene 12 (setting: hutan cemara)
Aldo, Alexa, Farel, dan Alya telah sampai di tempat kejadian penculikan Ratih dan Tiara.
Farel : “Sial, mereka pasti sudah jauh.” (cemas)
Aldo : “Ayo berpencar, barangkali mereka meninggalkan jejak!”
Keempat anak itu berpencar di sekeliling daerah itu untuk mencari bekas-bekas pencuri-pencuri itu. Tiba-tiba saja Aldo menemukan gelang Tiara yang terlepas.
Aldo : “Hai, lihat!” (berteriak)
Farel : “Ada apa?” (berlari mendekati Aldo)
Aldo : “Lihat ini!” (menunjukkan gelang milik Tiara kepada teman-temannya)
Alexa : “Sial!” (memukul telapak tangannya sendiri) “Ayo kejar meraka, mungkin saja belum jauh!”
Aldo : “Iya, tapi ke mana mereka membawa Tiara dan Ratih?”
Alexa : (menatap kamera) “Teman-teman, kita butuh bantuan kalian. Ke mana para penculik itu membawa Tiara dan Ratih? Ke sana? Atau ke sana? (gaya Dora) “Betul, ke sana!” (menunjuk jalan ke arah jalan raya).
Mereka telah mencari hingga tepi hutan, tetapi tidak berhasil menemukan Tiara dan Ratih. Namun, tanpa sengaja mereka bertemu dengan Bu Made yang telah menyusul ke hutan itu.
Ibu : (melihat Farel kemudian menghampirinya dan memaki-makinya) “Dasar anak muda gak punya tanggung jawab! Coba kalo kamu tidak maksa Tiara untuk ikut, semua ini tidak bakal terjadi kan!” (marah sambil menunjuk-nunjuk Farel)
Alexa : (senang melihat Farel dimaki-maki)
Farel : “Iya, tapi….”
Ibu : “Alah!” (berusaha mendorong Farel, tetapi malah terpeleset) “Kamu ini memang pembuat sial!” (sangat marah)
Alya, Alexa, dan Aldo: (mengumpat tertawa)
Farel : “Saya akan menemukan mereka!” (berteriak)
Ibu : (kaget)

Scene 13 (setting: hutan cemara)
Sementara itu Ramon dan Nesya telah berhasil mengejar Ratih dan Tiara. Sehingga terjadilah acara kejar-kejaran.
Ratih : (mengeluarkan kelereng dari dalam ransel dan melemparkannya ke belakang sehingga Ramon dan Nesya menjadi terpeleset)
Ramon dan Nesya: (terpeleset kemudian mengejar lagi)
Akhirnya Ratih dan Tiara berlari ke tengah hutan dengan cepat sehingga Ramon dan Nesya tertinggal jauh. Akhirnya Tiara dan Ratih bertemu dengan Bu Made dan teman-temannya.
Tiara : “Mami….!!” (menangis, berlari ke arah ibunya)
Ibu : “Kamu gak apa-apa kan?”
Tiara : “Gak apa-apa Mi, tapi…”
Ratih : “Cepat, penculik-penculik itu sudah dekat!”
Alexa dan Alya: “Apa?”
Aldo : “Lari..!!!” (semua berlari, tetapi Aldo dan Alexa terpisah dari kawan-kawannya).
Nesya : “Kejar mereka berdua saja, Ramon!” (berlari mengejar Aldo dan Alexa).
Ramon : “Jangan! Tujuan kita adalah Tiara!”
Nesya : “Gak mau!” (tetap mengejar Aldo dan Alexa).
Terjadilah dua peristiwa kejar-kejaran. Nesya mengejar Aldo dan Alexa, sedangkan Ramon mengejar Bu Made, Tiara, Ratih, Farel, dan Alya. Saat itu…
Alexa dan Aldo : “Wa……!!” (berlari ketakutan).
Nesya : “Wu….wu…wu…” (mengejar dengan gaya Indian, tetapi tiba-tiba ia kehilangan jejak mereka).
Alexa dan Aldo: (menyamar menjadi patung di sebelah patung asli dengan menggunakan pakaian hitam).
Nesya : “Di mana ya mereka?” (berhenti di depan patung).
Alexa : “Tu….utt” ( kentut).
Nesya : “Suara apa tuh?” (bingung).
Farel : “Wah bau….!!” (berlari).
Nesya : (menoleh ke arah Alexa).
Alexa : “he….” (meringis, kemudian berlari) “Wa… lari…!!”
Sementara itu…..
Alya : “Cepat sembunyi sini!” (berlari ke arah dinding suatu rumah kemudian mengeluarkan kain putih untuk bersembunyi mereka).
Ramon : “Ke mana mereka? Kok tiba-tiba hilang!” (berhenti di dekat dinding kemudian berlari mencari kembali).
Ratih : “1….2….3….” (berbisik).
Ibu : “Lari……!!” (berteriak).
Ramon : (mendengar suara Bu Made lalu berbalik mengejar mereka).
Dalam peristiwa kejar-kejaran itu, Aldo dan Alexa kembali bertamu dengan teman-temannya. Namun, Ramon dan nesya tidak berhasil mengejar mereka. Saat itu…
Ramon : “Di mana mereka?” (bergumam sambil berjalan mundur).
Nesya : (berjalan mundur dari arah yang berlawanan hingga akhirnya mereka bertabrakan).
Ramon dan Nesya: “Wa…..!!!” (kaget dan masing-masing berlari ketakutan).
Setelah sadar akhirnya mereka saling mendekat.
Ramon : “Nesya?”
Nesya : “Ramon? Kamu tuh jangan ngagetin gitu dong!!”
Ramon : “Kamu itu yang ngagetin, jelek!”
Nesya : “Ih, kamu itu yang jelek. Ramon jelek terjepit ketek gak bisa melek, wee…ekk!” (mengejek).
Ramon : “Kamu itu udah berani ya sama aku!” (marah, mengambil ranting untuk memukul Nesya).
Nesya : (berlari).
Ramon : (mengejar) “Sini jelek, tidak usah berlari ya!”
Nesya : “Wa…!!” (berlari dan bersembunyi di balik pohon).
Ramon : (mencari dari pohon ke pohon hingga akhirnya menemukan Nesya).
Nesya : “Stop…stop…!!” (menhentikan Ramon sebelum akhirnya berhasil memukulnya) “Kita ini mau menculik apa mau main kejar-kejaran sih?”
Ramon : “Iya ya? Ya udah ayo kita kejar mereka!”
Ramon dan Nesya: (berlari mencari Aldo dan kawan-kawan sambil berteriak gaya Indian kesukaan mereka) “Wu….wu…wu…”
Sementara itu Aldo dan kawan-kawan telah bersembunyi untuk membuat jebakan. Hingga akhirnya Ramon dan Nesya telah sampai ke tempat tersebut.
Farel : (mengambil tali di dalam tasnya) “Aldo tangkap!” (melemparkan tali ke arah Aldo)
Kemudian, bugh….. mereka jatuh tersandung perangkap Farel dan Aldo. Kemudian kedua penculik itu diikat di sebuah pohon. Dan Nesya menjadi pingsan karena seekor kucing diletakkan di dekat Nesya oleh Tiara.
Semua : “Ha…ha…ha…!!” (tertawa)
Tiara : “Makasih ya Rel, kamu sudah nolong kami!”
Farel : “Udah gak apa-apa kok, kan aku yang menyebabkan semua ini!”
Ibu : “Maaf ya, ibu udah berburuk sangka sama Nak Farel!”
Kemudian mereka semua kembali ke kota. Dan kedua penculik tersebut telah diamankan oleh polisi.


----------tamat----------

sang pujangga,
Imam Andriano Risoyo




untuk lebih lengkapnya, silahkan download pada link berikut: